Tuesday, January 8, 2008

Q U E S T I O N S A R E T H E A N S W E R S

"The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own
reason for existing. One can't help but be in awe when he contemplates
the mysteries of eternity, of life, of the marvelous structure of
reality. It's enough if one tries merely to comprehend a little of
this mystery every day. Never lose a holy curiousity"
-Albert Einstein


Alkisah, pada jaman dahulu di Amerika Serikat ada sebuah keluarga
yang hidup sederhana. Salah seorang anak di keluarga tersebut dikenal
sebagai anak yang kurang begitu pandai, bahkan akhirnya si anak
tersebut dikeluarkan dari sekolah, karena sang guru menganggap bahwa
sampai kapanpun juga si anak tidak mungkin bisa terus belajar, dengan
kemampuan otaknya yang menurut sang guru dibawah rata-rata. Tapi si
anak tidaklah mudah putus asa dengan kondisi yang dialaminya. Dia
selalu tertantang dan selalu menanyakan kepada dirinya
sendiri,"Bagaimana agar saya bisa mencapai kehidupan yang lebih baik ?
Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa dihargai oleh lingkungan
saya ?" Pertanyaan-2 itulah yang terus menerus diucapkan oleh si anak.
Akhirnya, dengan perjuangan yang luar biasa, si anak bisa menciptakan
bola lampu untuk pertama kalinya. Ya, si anak yang dianggap kurang
cerdas tersebut adalah Thomas Alfa Edison, seorang anak yang dianggap
bodoh hingga dikeluarkan dari sekolahnya. Namun pada akhirnya, dia
dianggap menjadi salah satu orang yang patut dikenang sepanjang masa.
Satu hal yang menarik untuk dicermati disini adalah, mengapa justru
Thomas Alfa Edison yang kurang pendidikannya yang berhasil menciptakan
bola lampu, mengapa bukan kakak atau adiknya ? Bukankah mereka lahir
dari keluarga yang sama, latar belakang yang sama, bahkan saudara-2nya
memiliki keunggulan akademis yang tidak dimilikinya ?

Kunci dari kesuksesan Edison, adalah pada pertanyaan yang sering
diajukan pada diri sendiri. Saat sesuatu terjadi pada dirinya, dia
selalu mengajukan suatu pertanyaan yang mampu menantang dirinya untuk
menyelesaikan hal tersebut. Pertanyaan yang diawali dengan kata
"mengapa" justru akan melemahkan kita saat suatu masalah timbul ;
karena kata "mengapa" akan membuat kita mencari-cari suatu alasan
mengapa kita mengalami kegagalan. Pertanyaan dengan "mengapa" saat
sedang menghadapi masalah akan membuat diri kita sebagai seorang
korban, sebagai seorang yang harus dikasihani. Sedang pertanyaan-2
yang diawali dengan kata "BAGAIMANA" akan terus memacu otak kita untuk
berpikir mencari solusi bagi suatu permasalahan. Dan pertanyaan-2
tersebut bukan saja dikatakan pada saat Edison memulai, tapi terutama
saat dirinya mengalami serangkaian kegagalan dalam eksperimennya
membuat lampu untuk pertama kali. Hal kedua, adalah pada pengalaman
kita. Edison berpendapat bahwa "PENGALAMAN ADALAH BUKAN APA YANG
TERJADI PADA DIRI KITA. PENGALAMAN ADALAH APA YANG KITA LAKUKAN, SAAT
SESUATU TERJADI PADA DIRI KITA".
Saat sebuah kegagalan datang,
bukannya menyesal mengapa dia gagal, Edison justru dengan bersemangat
selalu mengatakan "Akhirnya, saya menemukan lagi satu cara yang gagal
dalam membuat bola lampu ". Kegagalan direspons dengan cara yang
positif oleh Edison, sehingga membuatnya terus maju dan mencapai
tujuannya.

Penanya terbaik di dunia adalah anak-anak. Cobalah lihat tingkah laku
mereka yang kreatif dan selalu ingin tahu. Setiap kali mereka melihat
sesuatu yang baru, akan selalu bertanya "Mengapa begini ?", "Mengapa
begitu ?", "Apa ini ?", "Apa itu ?", "Apa maksudnya ?", dan lain
sebagainya. Ketidak tahuan anak-anak karena pikiran mereka masih polos
dan kosong justru menjadi suatu kelebihan, karena mereka bisa
mengisinya dengan berbagai hal dari pertanyaan-pertanya

an mereka.
Namun sayangnya, dalam proses pertumbuhan kita dari anak kecil menjadi
dewasa, lingkungan cenderung memberikan doktrin yang membatasi
kemampuan dan keberanian kita dalam bertanya. Orang yang banyak
bertanya dianggap orang yang bodoh atau kurang cerdas. Cobalah sejenak
kita mengingat masa kanak-kanak kita. Saat itu, apabila di dalam kelas
guru bertanya, sebagian besar anak akan mengangkat tangan dan menjawab
dengan antusias. Tapi saat kita sudah menginjak bangku SMP misalnya,
apabila guru bertanya siapa yang belum mengerti, hanya sedikit atau
bahkan tidak ada yang berani mengangkat tangan. Sebagian mungkin
menundukkan muka, sedang sebagian yang lain berpura-pura sedang sibuk
mengerjakan sesuatu. Walaupun mungkin ada beberapa siswa yang belum
mengerti, namun ketidak ,mengertian itu lebih baik hanya disimpan di
dalam hati, lebih baik diam … karena persepsi bahwa orang yang banyak
bertanya dianggap orang bodoh. Sungguh suatu doktrin yang seringkali
tanpa sadar membatasi diri kita untuk berkembang.

Bagaimana dengan diri kita saat ini, seberapa banyak diri kita telah
berkembang melalui pertanyaan-pertanya an yang kita ajukan ? Saat kita
menghadapi suatu masalah, pertanyaan jenis apakah yang kita ajukan ?
Apakah pertanyaan yang membuat diri kita sebagai suatu korban dari
masalah, ataukah pertanyaan yang bisa menantang diri kita untuk
mencari solusi ? PERTANYAAN YANG TEPAT, AKAN MENGHASILKAN SOLUSI YANG
TEPAT PULA
. Gunakan pertanyaan yang membangun setiap saat dalam setiap
situasi, untuk mendorong diri kita lebih maju dan optimal dalam meraih
tujuan. Sukses untuk anda !
Post a Comment

tes

tes

soal tes cpns

Motivated

Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. The way to get started is to quit talking and begin doing. ~ Walt Disney, Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawaw, Motivasi itu seperti mandi; kalau Anda berhenti melakukannya maka Anda akan "melempem" lagi, sama seperti Anda akan bau lagi bila berhenti mandi. ~ Z ig Ziglar ~ , Successful people live well, laugh often, and love much. They've filled a niche and accomplished tasks so as to leave the world better than they found it, while looking for the best in others, and giving the best they have. , It is literally true that you can succeed best and quickest by helping others to succeed. , There is always the danger that we may just do the work for the sake of the work. This is where the respect and the love and the devotion come in - that we do it to God, and that's why we try to do it as beautifully as possible. , Life is a promise; fulfill it, If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well. , Success is a state of mind. If you want success, start thinking of yourself as a success. , Be what it is that you are seeking. , Every new day is an opportunity to balance the sheet; a new opportunity to put your act right! Thank God for every new day, rather than just for Friday., There is no such thing in anyone's life as an unimportant day. ,What would life be if we had no courage to attempt anything? , It's what you learn after you think you know it all that makes a difference. , The difference between great people and everyone else is that great people create their lives actively, while everyone else is created by their lives, passively waiting to see where life takes them next. The difference between the two is the difference between living fully and just existing. , We are all faced with a series of great opportunities brilliantly disguised as impossible situations. , You cannot control what happens to you, but you can control your attitude toward what happens to you, and in that, you will be mastering change rather than allowing it to master you. , Those who wait to do a great deal of good at once will never do anything. Life is made up of little things. True greatness consists in being great in the little things. , Great lives are the culmination of great thoughts followed by great actions. , There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.,