Wednesday, May 28, 2008
Guru Ngaji
Cerpen Humam S. Chudori
Dimuat di Republika 01/27/2008
Sudah sepekan anak-anak yang mengaji di masjid Nurul Iman tidak ada yang mengurus. Anak-anak hanya berlarian ke sana ke mari. Sudah lima hari ini tidak satu pun ada guru mengaji yang mengajar di sana.
Meskipun anak-anak yang mengaji dikenai infak bulanan. Namun, hasilnya sangat tidak memadai untuk honor guru mengaji yang mengajar. Itu sebabnya setiap bulan Tarmidzi terpaksa minta subsidi dari kas masjid. Namun, yang dilakukan Tarmidzi menimbulkan masalah.
Sudah beberapa bulan ini, Neneng - istri Tarmidzi - mendengar kabar yang tidak menyenangkan tentang suaminya, bahwa Tarmidzi mau berkiprah di masjid yang belum sepenuhnya jadi karena ingin menangguk keuntungan dari sana.
Untuk mengklarifikasi masalah itu, Tarmidzi minta kepada ketua pengurus masjid untuk mengumpulkan semua pengurus, tokoh masyarakat, serta para ketua RT. Lelaki berkacamata minus itu ingin menjelaskan kenapa setiap bulan dirinya terpaksa meminta subsidi dari uang kas masjid. Kenapa pula tenaga pengajar anak-anak di masjid itu sering berganti. Tarmidzi tidak ingin apa yang dilakukannya selama ini justru menimbulkan fitnah.
"Itu sebabnya saya terpaksa harus ganti-ganti guru ngaji. Karena, jika mereka mendapat pekerjaan dapat dipastikan akan mengundurkan diri," kata Tarmidzi setelah memaparkan panjang lebar tentang keadaan anak-anak yang mengaji di masjid.
"Sebetulnya honor guru ngaji di sini tak lebih dari sekedar ucapan terimakasih. Sebab, andaikata setiap guru ngaji datang ke sini dengan menggunakan kendaraan umum, honor itu tidak cukup untuk biaya transport. Hanya saja, karena belum berkeluarga, mereka tidak pernah mempersoalkan honor yang mereka terima," lanjut Tarmidzi.
"Oh, jadi guru ngaji sekarang sudah kenal duit?" celetuk Zulfar. "Soalnya di kampung saya dulu, asal ada lampu sentir, anak-anak sudah bisa mengaji," tambah Zulfar, "Karena dulu orang mengajar ngaji nawaitunya lillahi ta'ala."
Tiba-tiba pertemuan itu menjadi kaku. Semua orang terlihat tegang setelah mendengar lontaran kalimat ketua RW itu. Tarmidzi yang paling tegang. Telinganya terasa panas mendengar ucapan Zulfar. Karena merasa dipojokkan, Tarmidzi marah. Ingin rasanya ia menghajar mulut suami Irawati itu.
Untuk menetralisir kemarahannya, Tarmidzi istighfar dalam batin. "Bagi orang yang tidak pernah mengaji atau orang bakhil, nawaitu lillahi ta'ala sengaja disalahtafsirkan. Sebab, dengan cara menyimpangkan makna lillahi ta'ala, orang bisa seenaknya memperlakukan guru ngaji. Guru agama pun khawatir dianggap tidak ikhlas apabila menuntut hak yang layak. Padahal mereka tetap mempunyai kewajiban yang sama dengan orang lain. Memberi nafkah, menyediakan perumahan, menyekolahkan anaknya, membayar cicilan rumah, dan lain-lain," ujar Tarmidzi setelah berhasil meredam kekesalannya.
"Anak seorang dai tetap perlu membayar uang sekolah dan membeli keperluan sekolah. Istri seorang muballigh bila membeli beras maupun sayuran tidak hanya separuh harga. Rumah seorang kyai, ajengan, atau seh tetap membayar rekening listrik kepada PLN. Jika menggunakan pesawat telepon juga tidak gratis. Nah, barangkali Pak RW bisa mencari guru mengaji yang tidak mempunyai kewajiban seperti itu."
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Tarmidzi, orang-orang yang ada di tempat itu tercenung. Sebelum orang lain bicara lagi. Tarmidzi kembali buka suara, "Mulai sekarang saya kembalikan kepercayaan bapak-bapak kepada saya untuk mengurus anak yang mengaji di sini. Barangkali Pak Zulfar bisa mencari guru ngaji yang tidak perlu membayar cicilan rumah, atau ustad yang istrinya kalau belanja hanya separuh harga, dan anak-anaknya bisa digratiskan sekolahnya. Dengan demikian, kas masjid tidak akan berkurang untuk membayar honor guru ngaji."
Tarmidzi menyerahkan berkas-berkas kepada Baharudin, ketua pengurus masjid. Baharudin sama sekali tidak bertanya kenapa berkas-berkas itu diserahkan lelaki yang duduk di sebelahnya. Tarmidzi lantas pulang. Ia tak ingin berlama-lama duduk di sana. Tarmidzi ingin menghindari mujadalah dengan orang-orang di masjid.
Esoknya tak ada guru mengaji yang datang ke masjid. Anak-anak menjadi tak terurus. Mereka hanya berlarian ke sana kemari di dalam masjid, dan membuat orang-orang yang ada di sana jengkel. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Baharudin mendatangi Tarmidzi. Minta kesediaannya untuk kembali menjadi pengurus masjid, dan bersedia menghubungi tenaga pengajar ngaji lagi. Namun, Tarmidzi terlanjur kecewa.
"Lebih baik Pak Bahar cari pengganti saya atau bereskan dulu pembangunan fisik masjid. Masjid kan masih banyak butuh biaya. Kalau pengajian anak-anak dihidupkan lagi justru akan mengurangi kas masjid. Uang yang seharusnya untuk beli semen atau pasir akan terpakai untuk honor guru ngaji," ujar Tarmidzi.
"Tapi...."
"Atau begini saja, Pak," potong Tarmidzi, "Nanti kalau ekonomi saya sudah mapan, saya sudah jadi orang kaya, saya bersedia diserahi seksi pendidikan anak-anak. Dengan demikian saya tak akan membebani kas masjid untuk honor pengajar."
"Apakah Pak Tarmidzi tidak...."
"Ini keputusan saya, Pak," untuk kedua kalinya Tarmidzi memotong kalimat Baharudin, "Saya akan berkiprah lagi di masjid jika ekonomi saya sudah mapan. Kalau tidak, lebih baik saya jadi jamaah saja, Pak."
Malam itu, rumah Baharudin dipenuhi tokoh masyarakat. Mereka tengah membicarakan nasib anak-anak di masjid Nurul Iman. Sudah sepekan anak-anak tak ada yang mengurus. Anak-anak hanya berlarian ke sana, karena tak ada guru mengaji yang datang.
"Kalau masalahnya seperti itu, biar nanti anak-anak kami yang mengurus," ujar Hasan setelah mendengar penjelasan Baharudin.
"Ya, saya juga bisa membantu Pak Hasan," kata Ali.
"Betul apa kata Pak Hasan sama Pak Ali. Masa, kita-kita tidak ada yang mengurus anak-anak. Nanti saya juga bisa ngajar, kok," sambut Royani. "Pokoknya kalau masalah ibadah yang penting kita ikhlas. Semuanya akan jadi beres," tambah Sulaeman.
"Yang jelas, uang kas masjid jangan sampai diutak-utik. Biar pemasukan dari tromol infak atau yang lainnya untuk pembangunan masjid," tukas yang lain lagi, "Saya yakin orang yang menyumbang pasti untuk kepentingan pembangunan masjid. Bukan untuk honor guru ngaji."
Setelah berbagai pendapat dikemukakan. Akhirnya mereka sepakat untuk tetap melanjutkan pengajian anak-anak di masjid Nurul Iman. Tenaga pengajarnya adalah mereka yang telah menyatakan kesediaan menggantikan Tarmidzi dan kawan-kawannya. Mereka itu adalah Hasan, Ali, Royani, Mukhlis, dan Topik.
Namun, lima orang itu ternyata tidak sanggup mengurusi anak-anak. Setelah mereka pegang, pengajian anak-anak hanya bisa bertahan setengah bulan. Setelah itu tidak ada yang mau dipasrahi mengurus pengajian anak-anak. Akibatnya, anak-anak di kompleks perumahan itu tak ada lagi yang mengaji.
Setelah Tarmidzi berhenti mengajar ngaji, sejak itu pula masjid Nurul Iman tak ada kegiatan pengajian anak-anak lagi. Karena menjadi pengajar ngaji tidak semudah yang mereka bayangkan. Meskipun demikian, tidak ada orang yang berani mendatangkan guru ngaji anak-anak dari luar penghuni kompleks. Mereka khawatir dianggap mencari keuntungan di balik semua yang dilakukannya.
Masjid yang berdiri di tengah kompleks perumahan itu makin megah. Bangunan tempat ibadah itu makin sempurna. Namun, tak ada rohnya. Sebab, tak ada kegiatan apa pun di sana kecuali hanya untuk shalat lima waktu dan shalat Jumat. Tiap shalat lima waktu pun hanya ada satu shaf yang berdiri di belakang imam. Itu pun jarang sekali penuh satu baris.
Kendati demikian, segenap pengurus masjid merasa bangga. Lantaran, bangunan itu lebih indah dan lebih megah dari rumah-rumah yang ada di sekitarnya.
***
Mudah2an cerpen ini dapat memberikan appresiasi baru kaum muslimn kepada para guru agama khususnya guru ngaji, trims
wassalam
Qiyamul Lail, kenapa susah?
Seringkali saya perhatikan ada muslim bangun malam tapi tidak untuk
sholat malam melainkan buang air atau periksa rumah karena ada suatu
yang mengganggunya atau yang lebih ironis untuk nonton bola...Padahal
seandainya dia tahu fadhilah Qiyamul Lail maka eak dia tinggalkan walau
sehari pun. Ini lantaran nggak ada NIAT di dalam hati, nggak ada
PROGRAM atau perencanaan Tazkiyatun Nafsi atau audiensi kepada Allah
terhadap problematika hidupnya.... .Nabi SAW. bilang: "Niat itu lebih baik dari Perbuatannya" , maksudnya tanamkan niat dulu n' terus menerus sebelum pelaksanaan ibadah tertentu....
Alasan lain, adalah POLA TIDUR. Nabi SAW berpesan kepada ummatnya salah
satu cara mudah bangun malam agar 'Jaga jam tidur'. Bagaimana mau
bangun malam bila jam tidurnya lebih dari jam 10.00? atau begadang
terus? Paksakan diri kita untuk tidur lebih awal bila tidak ada
kegiatan yang bermanfaat dan penting. "Dari sebagian tanda kebaikan
seorang mukmin, yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat",
sabda Nabi SAW. "Apa yang ada pada sisi Allah lebih baik dan kekal..."
pesan Qur'an.
Mudah-mudahan ini bermanfaat buat kita semua. Mohon maaf bila keliru n'
salah dalam redaksinya. Smoga ada yang bisa menambahkannya sehingga
kita kaya pengalaman spritual, demi mendapatkan Rahmat dan Ridhonya,
tks.
Wassalamu'alaikum
Sudah tepatkah keberadaan anda sekarang?
Sudah tepatkah keberadaan anda sekarang?
Ada 3 kaleng coca cola, ketiga kaleng tersebut diproduksi di pabrik yang sama
Ketika tiba harinya, sebuah truk datang ke pabrik, mengangkut kaleng-kaleng coca cola dan menuju ke tempat yang berbeda untuk pendistribusian.
Pemberhentian pertama adalah supermaket lokal. Kaleng coca cola pertama di turunkan disini. Kaleng itu dipajang di rak bersama dengan kaleng coca cola lainnya dan diberi harga Rp. 4.000.
Pemberhentian kedua adalah pusat perbelanjaan besar. Di sana , kaleng kedua diturunkan. Kaleng tersebut ditempatkan di dalam kulkas supaya dingin dan dijual dengan harga Rp. 7.500.
Pemberhentian terakhir adalah hotel bintang 5 yang sangat mewah. Kaleng coca cola ketiga diturunkan di sana . Kaleng ini tidak ditempatkan di rak atau di dalam kulkas. Kaleng ini hanya akan dikeluarkan jika ada pesanan dari pelanggan. Dan ketika ada yang pesan, kaleng ini dikeluarkan besama dengan gelas kristal berisi batu es. Semua disajikan di atas baki dan pelayan hotel akan membuka kaleng coca cola itu, menuangkannya ke dalam gelas dan dengan sopan menyajikannya ke pelanggan. Harganya Rp. 60.000.
Sekarang, pertanyaannya adalah : Mengapa ketiga kaleng coca cola tersebut memiliki harga yang berbeda padahal diproduksi dari pabrik yang sama, diantar dengan truk yang sama dan bahkan mereka memiliki rasa yang sama ?
Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP.
Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang meng-kerdil- kan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil.
(Orang yang sama, bakat yang sama, kemampuan yang sama) + lingkungan yang berbeda = NILAI YANG BERBEDA
20 Rambu Dalam Hidup Bermasyarakat
Oleh: Mochamad Bugi
dakwatuna.com - Islam sangat mendorong pemeluknya hidup bermasyarakat
secara sehat. Islam mencela orang yang mengasingkan diri dari
kehidupan sosial. Untuk itu, Islam memberi rambu-rambu agar seorang
muslim bisa hidup berdampingan dalam masyarakatnya dengan sehat tanpa
merugikan satu sama lain. Berikut ini 20 rambu tersebut.
1. Saling memberi nasihat
Saling menasihati adalah salah satu bentuk kesetiaan seorang muslim
kepada saudara muslimnya yang lain. Nasihat juga adalah bukti
kesempurnaan dan lengkapnya keshalihan seseorang dalam beragama.
Dari Tamim Ad-Daari r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya
agama (ad-din) itu an-nashihah. " Kami bertanya, "Nasihat bagi
siapakah, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bagi Allah, bagi
Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya, dan bagi para imam/ulama muslimin dan bagi
orang-orang awam di antara kalian." (Muslim no. 55)
Dari Jabir bin Abdullah r.a. yang berkata, aku membai'at Rasulullah
saw. untuk (mau) mendengar dan menaati (Islam). Lalu beliau
mengajariku, "(Lakukanlah) apa yang dapat kamu lakukan dan (hendaknya)
kamu menasihati kepada setiap muslim." (Bukhari no. 7204)
Jadi, saat turun bermasyarakat seorang muslim senantiasa menggunakan
kesempatan itu untuk saling menasihati. Pertama, saling mengingatkan
untuk menjaga keikhlasan hanya untuk Allah swt. semata. Kedua, saling
menasihati untuk membenarkan dan menyakini bahwa Al-Qur'an itu benar
dan diamalkan sebagai pedoman hidup. Ketiga, saling mengingatkan untuk
mengakui kebenaran Muhammad sebagai Nabi dan Rasul-Nya, untuk taat
pada setiap perintahnya, serta meneladani dan melanjutkan risalah
dakwahnya.
Keempat, mengingatkan imam/ulama jika mereka menyimpang dan taat
kepada mereka dalam kebenaran. Kelima, menasihati orang awam dalam
bentuk membimbing mereka untuk memperoleh kemaslahatan.
2. Jauhi Perbuatan Zalim
Dalam sebuah hadits qudsi, Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah
saw. berkata bahwa Allah swt. berfirman, "Hai hamba-hamba- Ku,
sesungguhnya Aku mengharamkan perbuatan zalim atas diri-Ku dan Aku
jadikan kezaliman it uharam di atanramu, maka janganlah kamu saling
menzalimi." (Muslim no. 2577)
Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda, "Muslim (sejati) itu ialah yang dapat menyelamatkan muslim
lain dari gangguan lidah dan tangannya." (Muslim no. 41)
3. Berakhlak Mulia
Abdullah bin `Amr bin Ash r.a. berkata Rasulullah saw itu bukanlah
seorang yang buruk perkataanya dan tidak berusaha untuk melakukan hal
seperti itu. Bahkan Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya termasuk
orang-orang pilihan di antaramu adalah yang paling bagus akhlaknya."
(Bukhari no. 3559 dan Muslim no. 2331)
Dari Abu Darda bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tidak ada sesuatu yang
paling berat timbangannya bagi mukmin pada hari kiamat daripada akhlak
yang bagus. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang buruk tutur
katanya dan jorok (cabul)." (Abu Dawud no. 4799 dan Turmudzi no. 2003)
Dari Jabir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan paling dekat
kedudukannya denganku pada hari kiamat adalah yang paling bagus
akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling aku benci di antara kamu dan
paling jauh tempatnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak
bicara tanpa manfaat, yang banyak bicara dibuat-buat, dan memenuhi
mulutnya dengan segala macam perkataan (tak berbobot)." (Turmudzi no.
2018))
4. Saling membantu dalam kebaikan
Seorang muslim hendaknya suka membantu sesamanya. Ini perintah
Rasulullah saw. seperti yang diriwayatkan Abdullah bin Umar, "Muslim
itu saudara(nya) muslim. Ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh
menyerahkannya ke tangan musuh. Barangsiapa yang berkenan memenuhi
hajat kebutuhan saudaranya, maka Allah pasti memenuhi hajatnya.
Barangsiapa melepaskan suatu kesulitan muslim, maka Allah akan
melepaskan darinya salah satu kesulitannya pada hari kiamat. Dan
barangsiapa yang menutupi (aib) muslim, maka Allah akan menutupi
(aib)nya pada hari kiamat." (Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580)
Abu Hurairah juga meriyaratkan hadits yang mirip. Rasulullah saw.
bersabda, "Barangsiapa yang melepaskan suatu kesusahan seroang mukmin
di antara berbagai kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan darinya
salah satu di antara berbagai kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa
yang memudahkan orang yang mendapatkan kesulitan, maka Allah akan
memberikan kemudahan baginya di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa
yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di
dunia dan akhirat. Dan Allah itu akan selalu membantu hamba jika ia
mau membantu saudaranya. Dan barangsiapa yang menempuh jalan untuk
menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan untuk menuju
surga. Tidak ada suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah
seraya membaca kitab Allah -Al-Qur'an-dan mereka mempelajari Al-Qur'an
tersebut kecuali akan turun kepada mereka ketenangan dan mereka pun
akan diliputi rahmat Allah serta mereka akan diliputi malaikan, bahkan
Allah pun akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk lain di
sisi-Nya. Serta, barangsiapa yang menangguhkan amal ibadahnya, maka
tidak akan dipercepat keturunannya. " (Muslim no. 2699)
5. Suka berkorban dan memberi
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tangan yang di
atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan yang di atas itu
ialah tangan yang memberi; sedangkan tangan yang di bawah ialah yang
meminta-minta. " (Bukhari no. 1429 dan Muslim no. 1033)
Abdullah bin Umar juga mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda
dalam khutbahnya, "Jauhilah olehmu sifat kikir. Sebab, orang-orang
sebelum kamu itu hancur karena kikir. (Pemimpin mereka) memerintahkan
mereka untuk kikir, lalu mereka pun kikir; ia memerintahkan untuk
memutuskan hubungan (persaudaraan) lalu mereka pun memutuskan hubungan
(persaudaraan) ; dan ia memerintahkannya untuk berbuat durhaka, mereka
pun melakukan perbuatan durhaka," (Abu Dawud no. 1698, Hakim no. 415,
dan shahih al-jami' no. 2675)
6. Mengatakan kebenaran
Seorang muslim selalu mengatakan hal yang benar. Meskipun perkataan
itu akan pahit dirasakan karena mengenai dirinya sendiri atau
berhadapan dengan penguasa. Abu Sa'id Al-Kudri r.a. berkata bahwa
Rasulullah saw. shalat bersama kami pada shalat ashar di siang hari.
Lalu ia berdiri untuk berkhutbah. Tiada ia meninggalkan suatu berita
tentang (dan untuk menuju) akhirat kecuali ia memberitahukannya kepada
kami. Berita itu akan dihapal oleh orang yang menghapalkannya dan akan
dilupakan oleh orang yang melupakannya. Dan di antara yang
disabdakannya adalah, "Ingatlah, jangan sampai ada seorang pun
terhalang oleh wibawa (kharisma) seseorang untuk mengatakan (dan
memperjuangkan) yang hak jika ia mengetahuinya. " (Turmudzi no. 2191,
Ibnu Majah no. 4007, Hakim no. 506, dan Silsilah Shahihah no. 168)
Zaid bin Abdullah bin Umar r.a. bercerita bahwa ada sejumlah orang
yang berkata kepada Abdullah bin Umar, "Kita sungguh akan memasuki
(menghadap) Sultan atau Amir kita. Maka kita (mesti) mengatakan kepada
mereka apa yang berbeda dengan apa yang kita katakan jika kita keluar
dari sisi mereka." Lalu Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Kami
menganggap yang seperti itu di masa Rasulullah saw. sebagai
kemunafikan. " (Bukhari no. 7178)
Semoga kita bisa selalu istiqomah untuk mengatakan hal yang benar
kepada siapapun sehingga kita tidak tergolong orang yang memiliki
sifat munafik.
7. Mengajak berbuat baik
Salah satu tujuan seorang muslim bergaul dengan masyarakat di sekitar
dirinya adalah dalam rangka mengajak mereka untuk berbuat kebaikan.
Dan ini adalah perintah Allah swt., "Hendaklah ada di antara kamu
sekelompok orang yang mengajak kepada kebaikan dan melarang perbuatan
munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Ali Imrah: 110)
Dan mengajak orang melakukan kebaikan sungguh besar pahalanya.
Rasululllah saw. bersabda –seperti yang diterima dari Abu Sa'id
Al-Kudri–, "Barangsiapa yang mengajak/menunjukka n kepada kebaikan,
maka ia berhak mendapatkan pahala sebesar pahala orang yang
melakukannya. " (Muslim no. 1893)
Abu Hurairah r.a. juga meriwayatkan hadits serupa. Rasulullah saw.
bersabda, "Barangsiapa yang mengajak kepada kebenaran, maka ia akan
mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tidak
berkurang dari pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak
kepada kesesatan, maka ia akan mendapatkan dosa sebesar dosa
orang-orang yang mengikutinya, tidak berkurang dari dosa mereka
sedikitpun." (Muslim no. 2674)
8. Menjauhi perbuatan munkar
Di manapun seorang muslim berada, ia selalu punya energi untuk
mencegah dirinya dan orang di sekitarnya dari melakukan perbuatan
munkar. Abu Sa'id Al-Kudri mengabarkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemunkaran, maka hendaklah ia
mengubahnya dengan tangannya; jika tidak dapat, maka hendaknya ia
mengubahnya dengan lidahnya; jika tidak dapat dengan itu, maka dengan
hatinya, dan ini adalah keimanan yang paling rendah." (Muslim no. 49)
Rasulullah saw. sangat melarang seorang muslim menjadi orang yang
permisif dengan kemunkaran. `Ars bin Umairah Al-Kindi r.a.
menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jika suatu
kesalahan/dosa diperbuat di buka bumi, maka orang yang menyaksikannya
dan membencinya lalu mengingkarinya seperti orang yang tidak ada di
situ –tidak mengetahuinya– dan barangsiapa yang tidak ada di sana
–tidak mengetahuinya– tetapi meridhainya, ia seperti orang yang
menyaksikannya. " (Abu Dawud no. 4345 dan Shahihul Jami' no. 7020)
9. Sabar dan murah hati
Bergaul dengan sesama tentu membutuhkan kesiapan mental dan kestabilan
emosional. Sebab, manusia beragam sifatnya. Sifat sabar dan murah hati
adalah bekal yang harus disiapkan seorang muslim. Apalagi Allah swt.
dalam surat Ali Imran ayat 134 menjadikan dua sifat ini sebagai ciri
ketakwaan. "Bergegaslah menuju ampunan Tuhanmu dan surga yang seluas
langit dan bumi disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu)
orang-orang yang mendermakan (hartanya) di waktu senang maupun ketika
menderita, dan orang-orang yang menahan marahnya serta yang memaafkan
kesalahan orang lain. Dan Allah itu suka kepada orang-orang yang
(suka) berbuat baik."
Bahkan Rasulullah saw. menyebut orang yang mampu menahan marah,
bersabar, dan bermurah hati sebagai jagoan. Abu Hurairah merekam sabda
Rasulullah saw. ini, "Orang jagoan itu bukanlah ditentukan dengan
(jagoan) gulat. Justru orang jagoan itu ialah orang yang dapat menahan
dirinya ketika marah." (Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609).
Subhanallah! Jika setiap manusia mampu mengamalkan sabda Rasulullah
saw. ini tentu sengketa, perselisihan, konflik, perseteruan, perang,
dan pertumpahan darah akan menjadi hal yang langka di muka bumi ini.
10. Pemaaf, toleran, dan tawadhu'
Bergaul dengan masyarakat tentu tak selamanya harmonis. Kadang ada
geserkan karena sesuatu hal. Dan menyimpan dendam adalah ciri pribadi
yang tidak sehat dalam bergaul dengan masyarakat. Allah swt. justru
mengajarkan kepada kita untuk menjadi orang yang pemaaf. Bahkan,
membalas keburukan dengan kebaikan. "Balaslah keburukan dengan cara
yang baik." (Al-Mu'minun: 96)
Sebab, ketika kita memberi maaf, memberi toleransi, dan tawadhu, itu
semua tidak membuat kita hina. Justru terlihat mulia di sisi. Abu
Hurairah r.a. merekam bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tiada berkurang
harta karena sedekah, dan tiada Allah menambah seseorang karena (mau)
memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidak ada seorang hamba pun yang
tawadhu' (merendahkan diri) karena Allah kecuali Allah akan
mengangkatnya. " (Muslim no. 2588)
Dari `Iyadh bin Khimar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Sesungguhnya Allah swt. telah mewahyukan kepadaku supaya kamu saling
bertawadhu' sehingga tidak ada seorang pun yang bertindak lalim atas
yang lain dan tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang
lain." (Muslim no. 2865)
Bahkan, sifat merendah menjadi ciri ahli surga. Dan sebaliknya, kasar,
tidak sabaran, congkak, dan sombong adalah ciri ahli neraka. Diterima
dari Haritsah bin Wahab r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah saw.
bersabda, "Senangkah kalian jika aku beritahukan tentang ahli surga?
Ia (ahli surga itu), setiap orang yang lemah dan memandang diri
(sendiri) lemah, yang jika bersumpah kepada Allah pasti dikabulkan.
Dan, sukakah kalian aku beritahukan tentang ahli neraka? Ia (ahli
neraka itu) adalah setiap orang yang kasar, tidak sabaran, dan congkak
lagi sombong." (Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853)
11. Sopan, santun, dan ramah
Suatu ketika pernah sekelompok orang Yahudi menemui Rasulullah saw.
Mereka berkata, "Al-saam `alaika (semoga engkau dikenai racun)."
Aisyah mendengar dan mengerti maksud kata-kata itu lantas membalas,
"`Alaikum al-saam wa al-la'nah (semoga racun itu untukmu disertai
kutukan)." Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, "Jangan begitu
Aisyah. Sesungguhnya Allah menyukai sifat lemah lembut dalam segala
urusan." Aisyah berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau dengar apa
yang mereka katakan?" Rasulullah saw. menjawab, "Telah aku jawab, wa
`alaikum." (Bukhari no. 6024)
Di hadits yang sama, dalam riwayat Bukhari no. 6030 disebutkan
Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah, "Hai Aisyah, engkau mesti lemah
lembut (tidak kasar), dan jauhilah olehmu sifat kasar/kejam dan
keji/kotor." Sedangkan dalam riwayat Muslim no. 2165, Rasulullah saw.
berkata, "Hai Aisyah, janganlah berlaku keji/kotor." Masih diriwayat
Muslim yang lain, Rasulullah saw. berkata, "Jangan begitu, hai Aisyah.
Sebab, Allah tidak menyukai perbuatan keji dan mengata-ngatai secara
kotor."
Begitulah Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita dalam berinteraksi
dengan orang lain. Bahkan, dengan orang yang jelas-jelas punya maksud
buruk terhadap diri kita. Sebab, sifat lemah lembut dan santun tidak
boleh hilang dari diri kita. Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, "Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak ada pada sesuatu
kecuali menghiasinya dan tidak tercabut dari sesuatu barang kecuali
menjadi kotor/jeleklah barang itu." (Muslim no. 2594)
Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah
itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan, dan Dia memberi (kepada
seseorang) karena kelembutan(nya) apa yang tidak diberikan-Nya (kepada
seseorang) karena kekejaman(nya) dan apa yang tidak diberikan-Nya
kepada orang yang mempunyai sifat selain sifat kejam." (Muslim no. 2593)
Karena itu, Rasulullah saw. tidak ingin seorang muslim menjadi
pengutuk. Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah
saw. bersabda, "Tidaklah pantas bagi shiddiq, mukmin yang bagus
imannya, untuk menjadi pengutuk." (Muslim 2597)
Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Mukmin
itu bukanlah pencemar nama baik orang, bukan pengutuk, dan bukan
pelaku perbuatan keji, serta bukan yang buruk tutur katanya."
(Turmudzi no. 1977 dan Silsilah Shahihah no. 320)
Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasululllah saw. bersabda, "Tidak ada
sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal seorang mukmin pada
hari kiamat daripada akhlak yang bagus (mulia). Dan sesungguhnya Allah
itu membenci orang yang suka melakukan perbuatan keji dan buruk tutur
katanya." (Abu Dawud no. 4799, Turmudzi no. 2002, Silsilah Shahihah
no. 876, dan Shahihul Jami no. 5597)
Karena itu, Rasulullah saw. melarang seorang muslim mencela muslim
yang lain. Dari Abdullah bin Mas'ud r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, "Mencela muslim itu perbuatan durhaka (fusuuq) dan membunuh
muslim adalah suatu kekufuran." (Bukhari no. 48 dan 6044, Muslim no.
64 dan 116)
12. Bertutur kata yang baik
Dari diri kita yang paling harus dijaga dalam bergaul dengan
masyarakat adalah lidah kita. Tidak sedikit orang celaka karena tidak
mampu mengontrol perkataannya.
Mu'adz bin Jabal r.a. diajarkan langsung tentang hal itu oleh
Rasulullah saw. "Senangkah kamu jika aku beritahukan apa yang
menguasai (mencukupi) itu semua?" Mu'adz menjawab, "Tentu, wahai
Rasulullah saw." Rasulullah saw. bersabda, "Tahanlah olehmu ini!"
Rasulullah saw. menunjuk lidahnya. Mu'adz berkata, "Wahai Nabiyullah,
apakah kita akan dituntut dengan apa yang kita ucapkan?" Rasulullah
saw. menjawab, "Celakalah kamu, wahai Mu'adz, bukankah manusia dapat
tersungkur ke dalam neraka hanya karena kata-kata yang keluar dari
lidahnya?"
Karena itu, menjaga lidah bukan hanya selamat diri dari kemarahan
orang yang mendengar, tetapi juga selamat dari siksa neraka. Sahal bin
Sa'ad Al-Sa'idi r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Siapa
yang menjamin (memelihara) untukku apa yang ada di antara kedua
kakinya dan apa yang ada di antara kedua janggutnya (lidahnya), aku
menjamin baginya (masuk) surga." (Bukhari no. 6474 dan 6807)
Uqbah bin `Amir r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, di manakah tempat
keselamatan itu?" Rasulullah menjawab, "Tahanlah lidahmu, rumahmu
meski mencukupimu dan menangislah atas segala kesalahanmu. " (Turmudzi
no. 2406 dan Silsilah Shahihah no. 890)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan
kata-kata yang baik atau diam." (Bukhari no. 5185 dan Muslim no. 47)
13. Berkhitmat kepada kaum muslimin
Allah swt. berfirman, "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah
bersaudara." (Al-Hujurat: 10). Karena dekatnya hubungan satu muslim
dengan muslim yang lain sebagai saudara, jika ada yang sakit maka
semua merasa sakit.
Anas bin Malik r.a. berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,
`Tidak sempurna iman seseorang di antaramu kecuali jika ia mencintai
saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya." (Bukhari no. 13
dan Muslim no. 45)
Dari Nu'man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai,
menyayangi, dan saling membantu itu bagaikan satu jasad. Jika ada di
antaranya yang merasa sakit, maka semua unsur jasad ikut tidak tidur
dan merasa demam." (Bukhari no. 6011 dan Muslim no. 2586)
Karena itu, tak heran jika Rasulullah saw. mengancam seorang muslim
yang tidak peduli dengan saudara muslimnya. Dari Hudzaifah Bin Yaman
r.a. berkata, Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang tidak ihtimam
(peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka." (HR
At-Tabrani)
Anas bin Malik pernah menemani Jarir bin Abdullah Al-Bajali dalam
sebuah perjalanan. Jarir berkhitmat kepada Anas, padahal usianya lebih
tua daripada Anas. Ini membuat anak tak enak. "Jangan engkau lakukan
itu," Jarir menjawab, "Aku telah melihat orang-orang Anshar memuliakan
Rasulullah saw. dan mereka melakukan sesuatu kepadanya, aku bertekad
untuk tidak bertemu dengan salah seorang di antara mereka (kaum
Anshar) kecuali aku memuliakannya dan berkhidmat kepadanya karena
keutamaan/kemuliaan seperti itu." (Bukhari no. 2888 dan Muslim no. 2513)
Sungguh mulia Jarir dan sungguh mulia kita jika bisa saling berkhitmat
dengan sesama.
14. Suka menolong
Allah swt. berfirman, "Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan
ketakwaan; dan janganlah kamu saling menolong dalam perbuatan dosa dan
permusuhan." (Al-Ma'idah: 2)
Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tolonglah
saudaramu, baik ia sebagai penganiaya maupun sebagai yang teraniaya."
Ada yang berkata, "Wahai Rasulullah, aku dapat menolongnya jika
teraniaya. Lalu, bagaimana caranya menolong yang menganiaya?"
Rasulullah saw. menjawab, "Engkau harus menghalanginya dari perbuatan
zalimnya. Itulah cara meolongnya." (Bukhari no. 2443)
Dari Abu Darda r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa yang
membela harga diri (martabat) saudaranya, maka Allah akan menolak dari
wajahnya api neraka pada hari kiamat." (Turmudzi no. 1931 dan Ahmad
no. 449)
15. Memiliki sifat sayang
Dari Jarir bin Abdullah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Allah
tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi orang lain." Dalam
riwayat lain, "Barangsiapa yang tidak sayang kepada manuasi, maka ia
tidak disayangi Allah." (Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2319)
Dari Abdullah bin `Amr bin Ash r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Para penyayang akan disayangi Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah
yang ada di muka bumi, kamu pasti disayangi yang di langit." (Abu
Dawud no. 4941, Turmudzi no. 1924, Silsilah Shahihah no. 925)
Dari Anas bin Malik r.a. dan Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Rasulullah
saw. bersabda, "Bukanlah dari kelompok kami orang yang tidak sayang
kepada yang kecil dan tidak hormat pada yang lebih besar (tua)."
(Turmudzi no. 1919)
16. Punya rasa malu dan mengendalikan pandangan
Malu adalah ciri khas seorang muslim. Karena itu Rasulullah saw.
membela seseorang yang punya rasa malu dari celaan orang lain. Dari
Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw. pernah melewati seseorang yang
mencela saudaranya karena rasa malunya dengan mengatakan, "Kamu ini
terlalu pemalu," sehingga dikatakan, "Sungguh kamu celaka." Maka
Rasulullah saw. pun bersabda, "Biarkanlah ia, sebab malu itu bagian
dari iman." (Bukhari no. 24 dan Muslim no. 36)
Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Iman itu
enam puluh sekian cabang, dan malu sebagai satu cabang dari keimanan
itu." (Bukhari no. 9 dan Muslim no. 350)
Sedangkan tentang mengendalikan pandangan, Allah swt. berfirman,
"Katakanlah kepada kaum mukminin: hendahnya mereka mengendalikan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. Itu lebih suci bagi mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan
katakanlah kepada kaum mukminat, hendaknya mereka mengendalikan
pandangannya dan memelihara kemaluannya. " (An-Nur: 31)
17. Tidak suka menjilat
Seorang muslim hendaknya menjauhi kebiasaan menjilat dan memuji secara
berlebihan. Sebab, hal itu dilarang oleh Rasulullah saw. Dari Abu Musa
Al'Asy'ari r.a. bahwa Rasulullah saw. penah mendengar seseorang
menyanjung seseorang seya memujinya secara berlebihan, lalu beliau
bersabda, "Kamu yang memutuskan punggungnya. " (Bukhari no. 2663 dan
Muslim no. 3001)
Bahkan kita diajarkan Rasulullah saw. untuk menaburkan tanah ke wajah
orang yang berusaha menjilat. Pernah seseorang memuji-muji Usman.
Miqdad kemdian maju dan berlutut pada kedua lutut orang itu, lalu
menumpahkan kerikil ke wajahnya. Usman berkata, "Apa yang kamu lakukan
itu?" Miqdad menjawab, "Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda,
`Jika kamu melihat orang-orang yang suka memuji-muji (menjilat), maka
tumpahkanlah tanah pada wajahnnya." (Muslim no.3002)
18. Jangan jadi beban masyarakat
`Auf bin Malik Al-Asyja'i berkata, kami sembilan atau delapan atau
bertujuh orang pernah berada di sisi Rasulullah saw. Beliau bersabda,
"Mengapakah kalian tidak berbai'at kepada Rasulullah?" Sebetulnya kami
baru (beberapa hari) saja melakukan bai'at. Beliau bersabda lagi,
"Mengapa kalian tidak membai'at Rasulullah?" Kami membentangkan
tangan-tangan kami dan berkata, "Kami telah berbai'at kepada engkau,
wahai Rasulullah, lalu atas dasar apa lagi kami mesti membai'atmu? "
Rasulullah saw. bersabda, "Kamu mesti berbai'at supaya tidak menyembah
selain Allah dan tidak menyekutukan- Nya dengan sesuatu pun, melakukan
shalat lima waktu, dan untuk mau mendengar dan mentaati." Lalu beliau
bersabda, "Janganlah kamu meminta sedikitpun kepada manusia." Maka aku
betul-betul melihat sebagian di antara mereka -sembilan atau delapan
atau tujuh orang yang berbai'at itu-ketika terjatuh cemeti salah
seorang di antara mereka, ternyata ia tidak meminta kepada seseorang
pun untuk mengembalikan untuknya." (Muslim no. 1043)
Begitulah ajaran Rasulullah saw. agar kita bersikap ghina `anin-naas
(merasa cukup dari manusia) dan hanya meminta kepada Allah swt.
19. Sabar menghadapi kesulitan hidup
Adalah tabiat hidup di dunia penuh dengan kesulitan hidup: ada
kesedihan, ada penyakit, dan ada penderitaan. Kesemuanya itu
membutuhkan kesabaran. Sebab, segala kesulitan hidup memang diciptakan
Allah swt. untuk mengingatkan akan fananya dunia ini dan menumbuhkan
rasa rindu dalam hati seorang mukmin akan kampung akhirat yang kekal
dan penuh kenikmatan.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a. dan Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah
saw. bersabda, "Tiada menimpa kepada mukmin, baik berupa penyakit atau
kelelahan, atau berupa penyakit atau kesedihan bahkan kegundahan yang
memusingkannya kecuali Allah akan menghapuskan dengan itu segala
dosanya." (Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Dari Shuhaib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh ajaib
urusan orang mukmin itu, sesungguhnya segala urusannya baik baginya.
Dan itu tidak ada kecuali bagi mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan,
ia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa
musibah/bencana, ia bersabar dan itu menjadi kebaikan baginya."
(Muslim no. 2999)
20. Punya ukuran tentang baik dan buruk
Begitu banyak peristiwa dan masalah yang timbul akibat interaksi kita
dengan masyarakat. Dan bisa jadi semua itu tidak membuat nyaman hati
kita. Apalagi bila menyangkut halal-haram, baik-buruk, boleh-tidak
boleh, patut-tidak patut. Karena itu, kita harus punya ukuran yang
menjadi standar dalam memilah semua peristiwa dan masalah yang
ditimbulkan akibat interaksi kita dengan orang lain. Ukuran itu adalah
syari'at.
Nu'man bin Basyir r.a. berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw.
bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.
Di antara yang halan dan haram itu ada hal-hal yang musytabihat yang
tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Tetapi, barangsiapa yang
menjauhi yang musytabihat, ia telah membebaskan agama dan
kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam musytabihat,
pasti terjerumus ke dalam yang haram. Hal itu bagaikan penggembala
yang menggembala di sekitar kebun dikhawatirkan gembalaannya itu masuk
ke dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya bagi setiap raja itu ada kebun
larangannya, dan sesungguhnya kebun larangan Allah itu segala yang
diharamkan-Nya. " (Bukhari no. 52 dan Muslim 1599)
Nawas bin Sam'an r.a. berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah
saw. tentang kebaikan dan dosa. Rasulullah saw. menjawab, "Al-Birr
(kebaikan) itu adalah akhlak yang mulia; sedangkan dosa ialah apa yang
berdetik -disertai dengan keraguan-dalam dadamu dan engkau tidak suka
jika orang lain mengetahuinya. (Muslim no. 2553)
Begitulah 20 rambu bagi kita dalam hidup bermasyarakat. Jika kita
amalkan, kita akan menjadi orang yang diharapkan kehadirannya di
tengah masyarakat. Ketika kita pergi, orang-orang di sekitar kita
menangisi kepergian kita.
Apa yang Membuat Bill Gates Berhasil?
Saat ditanya apakah yang menjadi rahasia Bill Gates bisa menjadi pengusaha
terkaya, kebanyakan orang menjawab karena dia jago dalam pembuatan software.
Betulkah? Mungkin betul. Namun yang seringkali diabaikan ialah keahlian dia
dalam membuat software ialah hanyalah salah satu rahasia keberhasilan dia.
Memang inilah yang bisa kita lihat tetapi bukan ini yang menjadi rahasia
utama.
Keterampilan, memang memegang peranan penting dalam keberhasilan seseorang.
Saya dalam ebook saya selalu menekankan akan pentingnya selalu meningkatkan
keterampilan. Namun ada yang lebih penting dari keterampilan. Coba kita
lihat, ada orang yang sangat pintar dan terampil tetapi hidupnya tidak
berhasil. Sementara ada orang yang keterampilannya pas-pasan tetapi dia bisa
berhasil.
Anda tahu Henry Ford? Apakah dia jago dalam hal engineering dalam pembuatan
mobil? Tidak, bahkan pada jamannya dia pernah diejek oleh sekelompok orang
yang mengatakan dia tidak pantas menjadi boss perusahaan mobil karena dia
tidak mengerti apa-apa tentang mobil. Namun, Anda tahu Henry Ford adalah
salah seorang raja mobil pada jamannya.
Anda boleh percaya boleh tidak. Anda boleh mengatakan apa pun. Anda boleh
berkmentar apa pun. Anda boleh menolak kenyataan ini. Yang membuat
orang-orang sukses ialah karena mereka memiliki pola pikir sukses. Betul
kuncinya ialah "POLA PIKIR".
Orang pesimis pernah mengatakan kepada saya, bagaimana bisa mendapatkan
sesuatu jika hanya berpikir positif saja? Orang pesimis mengetakan yang
penting bertindak. Betulkah?
Saya yakin Anda sering menemukan seseorang yang begitu rajin, bertindak
tidak henti, bekerja keras, tetapi mereka tetap miskin.
OK, saya setuju, memang tindakanlah yang akan membuat kita sukses. Tetapi
yang menjadi pertanyaan ialah, tindakan seperti apa? Tidak sembarang
tindakan yang membuat kita sukses.
Tindakan yang membawa kita menjadi sukses ialah tindakan yang berawal dari
pola pikir yang benar. Jika pola pikir kita benar, maka kita akan
mendapatkan tindakan yang benar yang akan membawa kepada keberhasilan Anda.
Bagi Anda yang sudah memiliki ebook-ebook saya, silahkan buka dan terapkan.
Pada ebook Beautiful Mind sudah saya jelaskan bagaimana memprogram pikiran
kita agar memiliki pola pikir yang benar, termasuk konsep-konsep yang
diterapkan oleh Bill Gates saat dia baru memulai bisnis.
Salah seorang karyawan Bill Gates mengatakan, pikiran Bill Gates seolah
bepuluh bahkan berkali lipat pikiran orang rata-rata.
Apakah Anda mau meningkatkan pola pikir Anda? Atau Anda masih punya alasan
untuk tidak melakukannya?
Semua terserah Anda.
Wassalam
Rahmat Motivasi Islami
The Islamic Motivator
http://www.blograhm at.co.cc
http://www.motivasi -islami.com
http://www.berpikir positif.co. cc
Makhluk Hanyalah Jalan Ketetapan-Nya
Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar
Betapa sesungguhnya segala-galanya hanya datang dari Allah SWT. Segala nikmat dan segala apa yang datangnya dari Allah yang menciptakannya. Sedangkan makhluk hanyalah sekedar jalan sampainya nikmat dan jalan sampainya musibah.
Walhasil akan jadi sengsara dan berat bagi siapa pun ketika telah terlalu banyak berharap dan terlalu banyak takut kepada makhluk. Padahal setiap makhluk, laa haula walaa kuwata illa billah tiada berdaya kecuali diberi kekuatan oleh Allah SWT.
Makhluk tidak akan memberi nikmat apapun tanpa ijin Allah. Andai pun, misalnya, bergabung seluruh jin dan manusia di muka bumi ini dengan seribu janji disampaikan, tapi jikalau tanpa ijin Allah, tidak akan pernah terjadi apapun dan tidak akan pernah datang apapun kepada kita.
Allah SWT berfirman, "Dan tuhanku, yang Dia memberi makan dan Dia memberi minum, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku dan yang mematikan aku. Kemudian akan menghidupkan aku kembali". (Q.S Asy-Syura [26]: 79-81).
Ayat ini menyiratkan bahwa hanya Allah lah yang memberi rizki, yang memberi kesehatan dan yang memberi segalanya. Setiap makhluk termasuk kita ini memang Allah lah yang menjamin segala kebutuhannya. Tugas kita sebagai manusia adalah menjemput makanan yang Allah jaminkan itu dengan cara terbaik sehingga ikhtiar mencari rizki baginya menjadi acara amal shaleh, acara ibadah dan acara yang penuh makna.
Kita harus ikhtiar menjemput makanan kita dengan cara terbaik, maka ikhtiar itulah yang menjadi amal shaleh. Kalau proses makannya disesuaikan dengan sunnah Rasulullah saw, menceduk dengan tangan kanan, sambil duduk, mengambil yang paling dekat dulu, yang sebelah pinggir dulu atau etika-etika lain yang dicontohkan Rasulullah SAW. Insya Allah jadi amal kebaikan, jadi suatu yang bernilai, tidak asal makan saja. Allah yang memberi makan kepada kita, tapi apakah acara makan ini menjadi suatu kemuliaan, jadi acara yang bernilai, jadi acara yang bermakna, tergantung dari niat dan cara yang kita lakukan.
Ah, sahabat. Tidak cukup hanya ingin makan saja. Yang lebih penting adalah memperbaiki niat dan memperbaiki cara, supaya acara mencari makan ini, menjadi sebuah amal shaleh. Setiap orang sudah ada jatah rizkinya, semua pasti dapat makan, insya Allah. Kita hanya akan berhenti makna kalau kita sudah mati.
Bagaimana dengan orang yang kelaparan? Sebetulnya orang yang meniggal karena kelaparan dengan yang meniggal bukan karena kelaparan, lebih banyak yang meniggal bukan karena kelaparan. Artinya apa? Sebenarnya bukan karena kelaparan itulah yang menyebabkan meninggal, kelaparan hanya salah satu jalan berakhirnya hidup seseorang. Sama sebagaimana sebab meninggal yang lain. Seperti penyakit, tabrakan, atau hal lainnya, yang bisa membuat hidup seseorang berakhir.
Tapi kalau dalam ketiadaan makanan itu orang tetap ikhtiar dengan baik tetap berjuang dengan sungguh-sungguh, serta berbaik sangka pada Allah, maka dia tidak rugi tuh walau meninggal karena kelaparan. Masih kekenyangan sebenarnya jauh lebih rugi dalam pandangan Allah, jikalau ketika makan tidak ingat pada Allah dan tidak ingat padahalal haram. Musibah itu bukan karena mati kelaparan, meniggal su'ul khatimah (jelek di akhir hayat) itulah yang jadi musibah.
Tidak usah khawatir tidak makan, tidak usah takut anak-anak kita tidak makan, tapi takutlah anak-anak kita makan tidak kenal halal haram, tidak mengenal basmalah, tidak mengenal hamdalah, inilah yang harus ditakuti para orang tua. Wallahu a'lam bis shawab.
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
Sensitif terhadap Waktu


Sensitif terhadap WaktuMenunda amal kebaikan karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah
tanda kebodohan yang memengaruhi jiwa (Ibnu Atha’ilah) Sesungguhnya waktu
akan menghakimi orang yang menggunakannya. Saat kita menyia-nyiakan waktu,
maka waktu akan menjadikan kita orang sia-sia.
Saat kita menganggap waktu tidak berharga, maka waktu akan menjadikan kita
manusia tidak berharga. Demikian pula saat kita memuliakan waktu, maka
waktu akan menjadikan kita orang mulia. Karena itu, kualitas seseorang
terlihat dari cara ia memperlakukan waktu.
Allah SWT menegaskan bahwa orang rugi itu bukan orang yang kehilangan
uang, jabatan atau penghargaan. Orang rugi itu adalah orang yang
membuang-buang kesempatan untuk beriman, beramal dan saling
nasihat-menasihati (QS Al Ashr [103]: 1-3).
Menunda amal
Ciri pertama orang merugi adalah gemar menunda-nunda berbuat kebaikan.
Ibnu Athailah menyebutnya sebagai tanda kebodohan, “Menunda amal kebaikan
karena menantikan kesempatan yang lebih baik adalah tanda kebodohan yang
mempengaruhi jiwa."
Mengapa orang suka menunda-nunda?
Pertama, ia tertipu oleh dunia.
Ia merasa ada hal lain yang jauh berharga dari yang semestinya dilakukan.
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang
kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Demikian firman Allah
dalam QS Al A’laa [87] ayat 16-17.
Kedua, tertipu oleh kemalasan.
Malas itu penyakit yang sangat berbahaya. Orang malas tidak akan pernah
meraih kemuliaan di dunia dan akhirat. Tidak ada obat paling manjur
mengobati kemalasan, selain mendobraknya dengan beramal.
Ketiga, lemah niat dan tekad, sehingga tidak bersungguh-sungguh dalam
beramal.
Salah satunya dengan terus menunda. Seorang pujangga bersyair, Janganlah
menunda sampai besok, apa yang dapat engkau kerjakan hari ini. Juga, waktu
itu sangat berharga, maka jangan engkau habiskan untuk sesuatu yang tidak
berharga.
Tidak sensitif terhadap waktu
Ciri kedua, tidak sensitif terhadap waktu. Islam memerintahkan kita untuk
sensitif terhadap waktu. Dalam sehari semalam tak kurang lima kali kita
diwajibkan shalat. Sehari semalam, lima kali Allah SWT mengingatkan kita
akan waktu. Shalat pun akan bertambah keutamaannya bila dilakukan di
masjid, berjamaah dan di awal waktu. Karena itu, orang-orang yang
mendirikan shalat, pasti memiliki manajemen waktu yang baik.
Sesungguhnya, kita hanya akan perhatian terhadap sesuatu yang kita anggap
penting. Demikian pula dengan waktu. Jika kita menganggap waktu sebagai
modal terpenting, maka kita akan sangat sensitif dan perhatian
terhadapnya. Kita tidak akan rela sedetik-pun waktu berlalu sia-sia. Orang
yang perhatian terhadap waktu terlihat dari intensitasnya melihat jam. Ia
sangat sering melihat jam. Ia begitu perhitungan, sehingga kerjanya
efektif dan cenderung berprestasi. Penelitian menunjukkan semakin
seseorang perhatian dengan waktu, semakin berarti dan efektif hidupnya. Ia
pun lebih berpeluang meraih kesuksesan.
Orang sukses itu tidak sekadar punya kecepatan, namun ia punya percepatan.
Kecepatan itu bersifat konstan atau tetap, sedangkan percepatan itu
menunjukkan perubahan persatuan waktu. Artinya, orang sukses itu
senantiasa melakukan perbaikan. Hari ini harus lebih baik dari hari
kemarin. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah SAW bahwa orang beruntung
itu hari ini selalu lebih baik dari kemarin. Lain halnya dengan orang
konstan; hari ini sama dengan kemarin. Rasul menyebutnya orang rugi.
Sedangkan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin disebut orang
celaka.
Saudaraku, orang yang memiliki percepatan, hubungan antara prestasi dengan
waktu hidupnya menunjukkan kurva L. Dalam waktu yang minimal, ia
mendapatkan prestasi maksimal. Itulah Rasulullah SAW. Walau usianya hanya
63 tahun, namun beliau memiliki prestasi yang abadi. Demikian pula para
sahabat dan orang-orang besar lainnya. Semuanya berawal dari adanya
sensitivitas terhadap waktu.
sumber : kolom hikmah - republika.co. id
ANTARA AXON, DENDRITE DAN CAHAYA ALLAH
Ust. H. Arsil Ibrahim, MA
Dewan Asatidz Masjid Jami' NURUL YAQIN
Taman Sentosa, Cikarang Bekasi
( www.nurulyaqin. org )
Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya jumlah sel tersebut tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan seorang manusia adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical impulses) antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain. (Lam Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003). Studi empiris membuktikan bahwa dari 100 milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa 92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).
Jika manusia modern menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan istilah electrical impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun yang lalu Imam Syafi'i dan gurunya Imam Waki' 'mengistilahkannya' sebagai Nurullah (Cahaya Allah). Beliau dan gurunya Imam Waki' berkeyakinan bahwa dasar daripada pemahaman dan penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan adalah cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi pemahaman yang sederhana bisa disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas cahaya Allah dalam hati dan pemikiran.
Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imam Syafi'i pernah mengadu kepada gurunya tentang kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya Imam Waki' menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan kemaksiatan. Beliau juga berpesan demikian, "Ilmu pengetahuan itu adalah cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat maksiat." Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan Imam Syafi'i terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh huruf pada buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang didengarnya.
Orang yang diterangi Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil Albab. Perkataan Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya adalah akal. Maka Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi (Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan mengimbas 'cahaya Allah' yang timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu tercerahkan (enlighted) dan berhasil menemukan fenomena-fenomena alam semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi sumber inspirasi dalam dunia ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya cara yang mereka contohkan agar 'cahaya Allah' berperan dalam memacu kekuatan arus listrik pada sel-sel otak adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan. Firman Allah:
"Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu." (Al-Baqarah: 282)
Ayat di atas merupakan rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang paling efisien untuk mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran, ketumpulan analisa dan kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan dalam sanubari mereka. Inilah cara yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk melejitkan interaksi arus listrik (electrical impulse) antara axon dengan dendrite dalam otak.
Lebih menarik lagi untuk disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh peneliti ahli dalam bidang neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S. Ramachandran. Mereka berdua menemukan adanya 'Titik Tuhan' (God Spot) dalam belantara otak manusia. Lebih rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada sebuah area di sekitar lobus temporal otak yang bersinar saat seseorang diajak untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut juga menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang menerima wejangan rohani atau renungan keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah ada suatu mekanisme khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan dengan Pencipta alam semesta. Dan sesungguhnya 'hubungan' (atau lazim disebut dalam Islam dengan ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai manusia dan melejitkan kemampuan akalnya.
Kita sama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan pengalaman lima panca indra manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa dan peraba). Seluruh apa yang dialami oleh lima indra tersebut berupa rangsangan pengalaman (impulse) diterima oleh saraf penerimaan (receptor neurone) untuk selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone). Kesemua proses ini terjadi dengan adanya interaksi arus listrik dalam sel-sel otak sehingga manusia mampu membentuk suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan respon fisik (motoric neurone).
Sebesar mana proses interaksi arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat pengalaman lima indra itu, sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan dalam otak. Maka wajarlah jika timbul perbedaan sudut pandang antara manusia yang cerdas (yang memiliki kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya) dengan orang awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus listrik pada sel-sel otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang dilihat, dirasa, dan didengarnya. Firman Allah SWT:
"Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" (Surah Hud 11: 24)
Ayat di atas mengesahkan fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini bukanlah alat indra mata atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama. Tetapi kadar kemampuan sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang dideteksi oleh indra-indra tersebut.
Jika kita yakin dengan firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar Neuropsikologi tentang 'God Spot', maka tentulah kita berkesimpulan bahwa pencapaian manusia dalam melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung kepada sebanyak mana ia menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits Qudsi berikut dapat kita pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para ulama zaman silam ternyata bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam menambah cahaya Allah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt berfirman dalam hadits Qudsi:
"Jika HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal yang Sunnah, maka ia akan kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang ia bertutur dengannya dan Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaku niscaya Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu" (Hadits Qudsi Riwayat at-Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)
Jelas sekali diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang banyak melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran, pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi panca indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh hasil bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya diproses oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.
Rangkuman dari semua kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang unggul dalam bidang apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia menjadi pakar ilmu pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah menjadi manusia Eropa pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan karena menyandera pakar pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat itu sudah mengarang tiga kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang kedokteran maka ia menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine nya masih menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji hingga hari ini), jika ia menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan misteri angka dan bentuk yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia matematika; Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-Khawarizmi) dan jika ia menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan rakyat karena membawa kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya (Umar bin Abdul Aziz menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi orang yang memerlukan bantuan).
Penulis teringat dengan kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada kulit kitabnya yang monumental; al-Muwattha' , "Tidak akan sukses generasi akhir dari umat ini, melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah mensukseskan generasi pertama."
Kita yang hidup pada akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses 'try and error' dalam menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian yang benar adalah pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin, yang dengan mudah kita dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti melantunkan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud tahajud yang panjang, shalat-shalat sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura', puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah sunnah lainnya yang dapat menaikkan derajat kita menjadi orang yang dicintai Allah. Ingatlah betapa hadits di atas menerangkan bahwa jika Allah telah mencintai seseorang maka orang itu dapat melihat, mendengar, berbicara dan berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah. Inilah inti daripada kecerdasan spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan kecerdasan emosional (Emotional Quotient).
Wallahu A'lam Bis Showab.
http://www.nurulyaq in.org/index. php?option= com_content& task=view& id=120&Itemid= 39
Mental Buruk Membanding-bandingk an
Mental Buruk Membanding-bandingk an
Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit
membanding-bandingk an. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip
ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-
banggakan dan membanding-bandingk an satu sama lain. Selain itu,
beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-
bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya.
Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang
lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih
berhasil daripada kita. Namun, sikap membanding-bandingk an punya
akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi
dengan mentalitas yang konstruktif.
Pertama, sikap membanding-bandingk an membuat kita seperti 'minum
dari air laut'. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita
semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri.
Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan
adiknya. Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan.
Namun, demi menjaga gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya,
dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya
secara material. Akhirnya, semua itu membawa dirinya menjadi
berutang yang cukup banyak.
Kedua, sikap membanding-bandingk an membuat kita berada dalam sebuah
herarki yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan
supervisor Anda, mungkin si supervisor Anda pun merasa iri dengan
manajernya. Lalu si manajer iri dengan direkturnya. Si direktur ini
pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, semua ini tidak
pernah ada putusnya.
Ketiga, mentalitas membanding-bandingk an membuat energi emosi kita
lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang justru negatif. Misalkan
saja, melihat rekan ataupun teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun
jadi merasa iri, sebel, cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini
membuat kebanyakan orang justru terjebak dalam energi yang negatif,
seperti berusaha mencari-cari kekurangan orang tersebut. Bahkan, ada
yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas.
Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding-
bandingkan yang negatif dan akhirnya justru membenamkan potensi diri
kita sendiri?
Standar sendiri
Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. Dalam pelatihan dan
seminar, saya tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang
terinpsirasi dari kisah hidup banyak orang sukses, "Saya tidak
membandingkan diri saya dengan orang lain. Namun, saya punya standar
kesempurnaan yang saya kejar terus-menerus sepanjang saya masih
punya napas". Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun
Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel.
Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingk an diri dengan mereka,
mereka pun membanding-bandingk an dengan Anda. Saya pernah mengalami
pengalaman menarik tatkala masih pada awal karier saya sebagai
pembicara dan penulis.
Saya sangat mengagumi seorang penulis dan pembicara yang sangat
produktif. Suatu ketika, saat ketemu, dia pun ternyata mengatakan
dia merasa iri dengan beberapa aspek pencapaian dalam kehidupan
saya. Saya pun akhirnya sadar, ini bagian dari permainan kehidupan
yang mesti kita sadari.
Kita akan selalu membanding-bandingk an. Kamu hebat di mana, kamu
punya apa, dan seterusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak
akan berhenti. Karena itulah, satu-satunya cara adalah tidak
membanding-bandingk an dan tidak melihat orang lain dengan perasaan
iri. Ingatlah, belajar dari kisah saya di atas, mungkin dia sendiri
pun sedang melihat Anda saat ini dengan irinya.
Ketiga, setop membanding-bandingk an dan belajar untuk bersyukur
dengan apa yang kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita
telah berusaha secara maksimal dan inilah yang mampu kita capai,
belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati.
Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka
miliki. Sejauh kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan
rajin dan gigih mau berjuang, saya percaya kita akhirnya akan
menikmati seperti yang orang lain nikmati. Namun, kita tidak boleh
merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah punya path
(jalannya) sendiri-sendiri.
Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita
tak perlu iri apalagi marah dengan 'rumput tetangga yang tampaknya
lebih hijau'. Belajar terima kondisi 'rumput' kita saat ini tetapi
rajin-rajinlah merawat dan melihat serta mengembangkan kondisi
rumput kita. Mungkin suatu ketika, rumput kita pun akhirnya akan
sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus.
Keempat, kalaupun ingin membanding-bandingk an, bandingkanlah dengan
dirimu sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada
kemajuan dan perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual,
finansial, karier, emosional, mental (pengetahuan) atau hubungan
sosial, bagaimana perkembangannya?
Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda
menjalani grafik yang semakin menanjak dalam kehidupan Anda. Di sisi
lain, energi yang dipakai juga energi positif.
Akhirnya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah
bukan dengan kacamata perasaan iri, marah, ataupun sebel. Namun,
dengan kacamata ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mencontoh apa
yang mereka lakukan sehingga Anda pun bisa sesukses mereka-mereka
ini. Dengan demikian, cara membandingkan Anda disertai dengan sikap
dan emosi yang positif.
Sumber: Mental Buruk Membanding-bandingk an oleh Anthony Dio Martin,
Managing Director HR Excellency
Kekuatan DOA dalam bingkai Do'a - Ikhlas - Syukur
Do'aku adalah untukku
Tuhan tidak perlu Do'aku
Karena Tuhan Maha Tahu
Karena Tuhan itu Maha Menyaksikan setiap kejadian manusia
Termasuk segala kesulitan yang dihadapi
Dan Dia selalu berkenan membantu siapa saja yang meminta bantuanNya
Tuhan Maha Tahu apa yang kita mau
Tetapi… apakah kita tahu apa yang kita mau.
Percayalah.. . Tuhan itu Maha Pemberi dan pasti memberikan apa yang kita minta
Semakin jernih dan bersih kita memandang suatu masalah dan bisa "ngeh" atas apa yang kita mau
Maka kita sudah berdo'a dengan sesungguhnya
Kita besar sebesar perasaan kita
Perasaan yang penuh keyakinan atas berlakunya semua Hukum Tuhan
Bersihkan hati
Jaga perasaan dalam keikhlasan… hingga kita seakan bisa melihat niat kita terwujud
Hati yang bening dalam lindungan ikhlas dan iman
Kekuatan syukur adalah Jurus Pamungkas
Kita harus bersyukur yang keras
Yang kekuatannya menjadi sumber tenaga
Yang menarik semua niat menjadi nyata
Semua impinan menjadi pencapaian
Keberlimpahan yang digandakan
Itulah Kekuatan DO'A dalam lingkaran Do'a Ikhlas Syukur
Do'a adalah untuk kemurnian jiwaku
Do'a adalah untuk ibadahku
Do'a adalah keberlimpahanku
Salam penuh keberlimpahan
Istighfar & shodaqoh merupakan therapy kesuburan
Ketika aku baca buku 'Kekuatan Istighfar' terpampang di depanku beberapa ayat dari surat Nuh, yang bunyinya, sbb:
"Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun, Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS, Nuh, 71:10-12)
Subhanallah! Ternyata therapy Istighfar dapat memberikan keturunan atau dapat menyembuhkan infertilasi. Dan lebih meyakinkan lagi ketika sebuah hadits menceritakan bahwa "suatu hari Rasulullah didatangi seorang wanita yang mengeluhkan ketidak suburannya setelah beberapa tahun pernikahannya. Rasulullah kemudian bertanya: Sudahkah kamu beristighfar dan bersedekah? Beberapa lama kemudian terdengar bahwa wanita tersebut melahirkan bahkan sampai sembilan anaknya.
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda "Barangsiapa yang sering beristighfar niscaya Allah akan menjadikan setiap kehimpitan hidupnya jalan keluar, setiap kesedihannya sukacita dan memberi rezeki yang tak terduga". HR.Abu Daud.
Semoga tulisannya ini bermanfaat buat temen-temen yang selalu menanti kehadiran buah hati…
Wassalamu'alaikum…
-
Menikmati Putaran Roda Kehidupan Oleh : Agus Riyanto Sukses itu penuh perjuangan, bahkan harus diraih dengan pengorbanan yang dahsyat, begit...