Tuesday, August 26, 2008

Khutbah Rasulullah SAW menjelang Ramadhan

Sumber :
www.taushiyah-online.com

Selain memerintah shaum, dalam menyambut menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah saw. selalu memberikan beberapa nasehat dan pesan-pesan. Inilah pesan Rasulullah tatkala memasuki Ramadhan.

Wahai manusia! Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA.

Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin.

Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya.

Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu. Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar.

Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa) mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.Ketahuilah! Allah ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabb al-alamin.

Wahai manusia! Barang siapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu. (Sahabat-sahabat lain bertanya: “Ya Rasulullah! Tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.”Rasulullah meneruskan: “Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.

Jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.”Wahai manusia! Siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati sirathol mustaqim pada hari ketika kai-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat.

Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.

Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain. Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan.

Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu.

Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin k.w. berkata: “Aku berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah! Apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi: “Ya Abal Hasan! Amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.

Wahai manusia! sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’.”“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain.”“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan ( syahrul muwasah ) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.”“Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka.

Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.”Para sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw, “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”“Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.”“Oleh karena itu banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya.”“Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya .

Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”“Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Sumber :
www.taushiyah-online.com

Masalah ??? Siapa Takut

Dalam hidup ini kita pasti selalu menghadapi masalah !Suka maupun tidak
suka masalah tersebut akan datang pada kita, setiap dari kita mempunyai
cara penyelesaian yang berbeda-beda, ada yang suka menyelesaikannya
dengan kekerasan, ada yang dengan musyawarah ,ada yang dengan kekayaan
,bahkan ada yang suka melarikan diri dari masalah, padahal apabila kita
lari dari masalah, bukannya mengurangi masalah ,malah sikap itu akan
menambah masalah bagi kita. Lalu bagaimana cara kita dalam menghadapi
masalah ? Agar masalah tersebut tidak membuat kita stress dalam
menghadapi kehidupan ini ???.

Seperti yang kita ketahui, dalam hidup ini setiap individu pasti ada
masalah, kita memang tidak bisa menghindari masalah akan tetapi masalah
bisa kita kelola agar tidak membuat kita stress atau bahasa kerennya
kita bisa memanagenya. Salah satunya adalah dengan bersikap secara
positive, selalu menganggap bahwa semua masalah selalu ada jalan
keluarnya,hikmahnya dan kita pasti bisa menyelesaikannya, bukankah di
setiap masalah pasti ada kemudahan !!!! , selain itu kita juga bisa
menganggap masalah sebagai tantangan bagi kita untuk menjadi lebih
sukses, anggap saja masalah itu sebagai ujian yang ditujukan pada kita
untuk mengasah kemampuan kita, bukankah setiap kita ingin mendapatkan
kedudukan yang lebih tinggi kita harus melewati beberapa ujian sebelum
mendapatkannya ! .

Setiap orang sukses pasti mempunyai masalah yang banyak dan yang
membedakan mereka dari orang yang biasa-biasa saja adalah mereka bisa
menyelesaikan masalah mereka dengan baik, selalu merasa optimis bahwa
masalah mereka pasti akan berhasil mereka selesaikan .

Karena itu marilah kita menganggap masalah itu sebagai suatu tantangan
untuk menjadi lebih baik, Jangan pernah takut dengan masalah ! Karena
dimana ada kemauan pasti ada jalan keluar !!!

Semoga bermanfaat!! !

membeli masa depan.. ketika jadi dokter aja (ternyata) belum cukup

Awesome.. Terasa merangkum banyak buku dan ide, semoga bermanfaat guys.
Wa bil khusus para calon ayah. ^_^. Met puasa, jalani ramadhan


Penulis : Adithya Mulya (penulis novel 'Jomblo', 'Gege Mengejar Cinta', dan beberapa novel lainnya)

~~~

Membeli Masa Depan
Tuesday, February 26, 2008

Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi
memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah
iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan
itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert
tulisan "Untuk biaya masuk SD". Di akhir adegan itu, kita melihat liontin
emas ibu muda.

Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu
melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: "Untuk biaya masuk
SMP"

Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung
melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. "Untuk biaya
SMA".

Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa,
di depan rumahnya ada tulisan "rumah dijual" insert: "untuk masuk kuliah"

Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah
ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life is not a game. You can't restart your life. Once you make a mistake,
that's it. You're done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat
unforgiving. Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk
kita semua. Sayangnya orang-orang seperti Mega dan Amien Rais kerjanya
membuat sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju
jika pemimpin negara dibacokin orang-orang yang kerjanya pengen jadi
pemimpin negara.

Hidup untuk Masa Depan
Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di
tangan. Tapi gua berusaha merasa qana'ah karena tidak ada yang lebih buruk
di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata
temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan
pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang
bersyukur.

Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau
statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

(commented by leo: yang 1 lagi jangan ditanya yah..hehehe)

Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya
bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja
hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu,
membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3?
Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua
untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi
dirinya sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak
kita adalah masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia,
bukan hari tua kita.

Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya,
atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena
penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang
belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita
Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality
kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya
hidupnya karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income.
Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%.
Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang
kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style
Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya
rendah akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada
biaya hidup pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta
setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah
10 juta setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri
masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second,
yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine
out, yang satu masak.
Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.

Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita
berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok.
Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja.
Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living
cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat
bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti
ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga
yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan
untuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings
Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung
beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa
nabung. Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau
apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya
ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan
kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya
'Automatic Millionaire' mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini
langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka
lupa bayar pajak. Hal yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita
bisa request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan
pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta
mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost
kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita,
bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari
seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan
banget buku David Bach 'Automatic Millionaire'

Security
Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus.
Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak
berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa
sekolah di universitas top indonesia , jadi bisa gak kuliah sama sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal
6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.

Di sini, gua cuman pengen sharing apa
yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari
sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau
berapa tahun).

Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita
dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena
inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10
juta.

Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi
pertahunnya. Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan
harus dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split
40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke
investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank.
Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak
orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama
asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala
keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi
antara uang pertanggungan dan nilai investasi.
You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.

Invest
Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya
adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro
di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih?
Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita
invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang
jelas, ada beberapa pointers:

- asset & liability
Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang "rich dad buys assets. Poor
dad buys liability". Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang
menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil
itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180
juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah
susun? Atau BTN? "Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin.
Sana kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung." Rumah, di 80% kasus,
adalah aset.

Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi,
nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo
kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

- Biggest & Most Basic Investment
Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju
ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah
sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita
membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa
setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya.
Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak
milik kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah
tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan
energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama
mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak
deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang
timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau
keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik,
air, kabelvision dll.

Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang "Udah, mamah di sini aja
sama saya"

Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua
itu adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat
mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well,
beda cerita.

Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk
menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama
belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.

Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat
kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian.
Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita
investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat
investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil,
ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas
batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita
sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.


Hutang
Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli
rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi
memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas.
Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata
mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik.
Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua.
Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya
terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu
habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada
kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli
2 rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat
menggunakan uangnya untuk investasi.


Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

pembelian aset
pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur
produktif untuk investasi yang lain juga.
Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca
yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat umum Bank di
indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo
gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting.
Dan bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong
keleluasaan kita dalam berinvestasi kan . Dan bahkan untuk cicil rumah,
bukan gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari
45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan.
Contoh metode lain adalah:

1. 5 tahun pertama konsen beli rumah
2. 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi
3. 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun.
Uang bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang "Ya ini
sapi pensiun gua." Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu
dapat nyambung hidup dia.

Upside
Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan
masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal
sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi
ada kelemahannya.

Downside
Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal,
gak ada dana back up dong.

Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua
uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end.
Lenyap udah itu semua.

Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita
telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada
investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah
kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu
hal, kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi
itu safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa
belasan tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup
kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah.
Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang
selama ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju
dengan penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi
masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan
berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar
menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan
benar.

Penutup
Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak
Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua
kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur
hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak
pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka
habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal
pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua.
Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua
Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu
bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua
keluarga.

Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan
hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran,
baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances
are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle
mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah
lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan ? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting.
Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya
gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang
gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak
keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Anda mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain ?


Saturday, August 16, 2008

triangular theory of love

The triangular theory of love is a theory of love developed by psychologist Robert Sternberg. The theory characterizes love within the context of interpersonal relationships by three different components:

  1. Intimacy – Which encompasses feelings of closeness, connectedness, and bondedness.
  2. Passion – Which encompasses drives that lead to romance, physical attraction, and sexual consummation.
  3. Commitment – Which encompasses, in the short term, the decision to remain with another, and in the long term, the shared achievements and plans made with that other.

The “amount” of love one experiences depends on the absolute strength of these three components; the “type” of love one experiences depends on their strengths relative to each other. Different stages and types of love can be explained as different combinations of these three elements; for example, the relative emphasis of each component changes over time as an adult romantic relationship develops. A relationship based on a single element is less likely to survive than one based on two or more.

[edit] Forms of love

Combinations of intimacy, passion, and commitment
Intimacy Passion Commitment
Nonlove
Liking/friendship
x
Infatuated love
x
Empty love
x
Romantic love
x
x
Companionate love
x
x
Fatuous love
x
x
Consummate love
x
x
x


The three components, pictorially labeled on the vertices of a triangle, interact with each other and with the actions they produce and with the actions that produce them so as to form seven different kinds of love experiences (nonlove is not represented). The size of the triangle functions to represent the "amount" of love - the bigger the triangle the greater the love. The shape of the triangle functions to represent the "type" of love, which may vary over the course of the relationship:

  • Nonlove is the absence of all three of Sternberg's components of love.
  • Liking/friendship in this case is not used in a trivial sense. Sternberg says that this intimate liking characterizes true friendships, in which a person feels a bondedness, a warmth, and a closeness with another but not intense passion or long-term commitment.
  • Infatuated love is pure passion. Romantic relationships often start out as infatuated love and become romantic love as intimacy develops over time. However, without developing intimacy or commitment, infatuated love may disappear suddenly.
  • Empty love is characterized by commitment without intimacy or passion. Sometimes, a stronger love deteriorates into empty love. In cultures in which arranged marriages are common, relationships often begin as empty love and develop into one of the other forms with the passing of time.[citation needed]
  • Romantic love bonds individuals emotionally through intimacy and physically through passionate arousal.
  • Companionate love is an intimate, non-passionate type of love that is stronger than friendship because of the element of long-term commitment. Sexual or physical desire is not an element of companionate love. This type of love is often found in marriages in which the passion has gone out of the relationship but a deep affection and commitment remain. The love ideally shared between family members is a form of companionate love, as is the love between close friends who have a platonic but strong friendship.
  • Fatuous love can be exemplified by a whirlwind courtship and marriage in which a commitment is motivated largely by passion without the stabilizing influence of intimacy.
  • Consummate love is the complete form of love, representing an ideal relationship toward which people strive. Of the seven varieties of love, consummate love is theorized to be that love associated with the “perfect couple”. According to Sternberg, such couples will continue to have great sex fifteen years or more into the relationship, they can not imagine themselves happy over the long term with anyone else, they weather their few storms gracefully, and each delight in the relationship with one other.[1] However, Sternberg cautions that maintaining a consummate love may be even harder than achieving it. He stresses the importance of translating the components of love into action. "Without expression," he warns, "even the greatest of loves can die" (1987, p.341). Thus, consummate love may not be permanent. If passion is lost over time, it may change into companionate love.

Wednesday, August 6, 2008

Karena Kita Tak Bisa Memilih Ujian

Karena Kita Tak Bisa Memilih Ujian


sumber: www. eramuslim.com

5 Agu 08 13:13 WIB

Kirim teman

Oleh Asriwidiarti

Saya mengenalnya sebagai ibu yang baik. Ia murah hati. Terhadap tetangganya pun ia paling mudah menolong. Setiap kali memasak dengan porsi yang banyak, ia antarkan ke tetangganya. Bergiliran. Setiap kali pula ada yang membutuhkan beberapa ribu untuk keperluan mendesak, dia adalah tujuan pertamanya.

Dan subhanallah, ia tak pernah mengecewakan orang yang membutuhkan pertolongannya. Bahkan terhadap tukang sayur dan pedagang kecil lain, tukang bubur, tukang jamu, yang sering lewat di depan rumahnya, ia adalah sosok yang disayangi. Karena ia sering berbagi dengan mereka, seragam sekolah bekas anaknya yang masih bagus, sepatu yang kekecilan, beras kering atau apa saja yang ia punya dan sudah tak dipakainya.

Ia juga pelopor pengajian di RTnya. Rajin puasa, selalu sholat dhuha (katanya paginya merasa tak lengkap bila ia tak sholat dhuha) dan diusahakannya tahajjud, meski ia mengaku terkadang tak qiyamullail juga. Pendeknya ia sosok yang baik hati.

Suaminya, adalah bapak yang pendiam, tak banyak bicara, lebih banyak tersenyum. Ia adalah orang pertama yang membuka pintu di gang rumahnya ketika adzan shubuh berkumandang untuk sholat berjamaah di masjid. Begitu pun bila ia di rumah. Sholatnya selalu di masjid. Setiap sore, sesudah ia pulang kantor, ia mandi dan ke masjid untuk sholat maghrib, lalu ia habiskan waktu setelahnya dengan mengaji dan berdzikir sampai sholat Isya. Baru ia pulang ke rumah.

Ia juga bapak yang mudah membantu tetangganya. Membenarkan mesin cuci, pipa selang PAM yang bocor, setrika dan pernak-pernik lain tanpa mau dibayar. Bahkan para ibu yang suaminya sedang pergi ke luar kota dan tiba-tiba sekering listriknya putus, bapak inilah yang biasanya membantu.

Tetapi, beginilah hidup. Semua dari kita tak ada yang bisa memilih ujian. Berkali-kali, salah seorang dari anaknya, berurusan dengan polisi, sejak masih ABG. Urusan perkelahian antar remaja. Padahal sesungguhnya dia ini anak yang pintar. Ia kuliah di PTN terkenal, sudah KKN dan tinggal menyelesaikan skripsinya. Tetapi emosinya memang sering tak terkendali. Bahkan tetangga dekat mereka berkomentar, "Kurang apa sih harmonisnya keluarga itu, kok anaknya ada yang seperti dia?" Luar biasa anak ini.

Entah sudah berapa kali orang tuanya mengeluarkan jutaan uang untuk membebaskannya dari kejaran polisi. Terakhir polisi mencarinya, ia buron, karena disangka membunuh seorang preman bersama gangnya yang mengganggu teman-temannya.

Saya ikut menangis ketika sang ibu menangis usai ia didatangi polisi. "Betapa apesnya hidup saya, Bu, padahal kata polisi, preman ini sudah mau ditangkap, tetapi kok malah keduluan anak saya." Para ibu berdatangan menguatkan hatinya. Mereka mempersaksikan bahwa ia ibu yang baik, tak mungkin mengajarkan kejahatan pada anaknya. Mereka mengingatkannya bahwa ia masih memiliki anak-anak yang lain, yang masih harus ia urus, ia tak boleh menyerahkan hatinya hanya kepada seorang anaknya yang terus menerus bermasalah.

Kami semua tahu, bagaimana pun, sang ibu tak kehilangan kasih sayang meski sang anak masih belum ketemu hingga sekarang.

Tetapi beginilah hidup, kita tak bisa memilih ujian. Ibadah yang kita lakukan tak bisa menjamin bahwa kita akan dapatkan kenyamanan hidup di dunia. Karena titian hidup adalah kumpulan ujian. Allah yang memberinya. Allah pula yang tahu yang terbaik untuk kita. Lulus atau gagalnya kita menghadapi ujian tergantung dari seberapa besar pertolongan Allah, kepercayaan kita kepadaNya, kadar usaha beriringan dengan tawakkal, persepsi keimanan dan masih banyak lagi. Kita memang tak bisa memilih ujian, ini semua kewenangan Allah. Kalau kita bisa memilih, kita pasti memilih yang menyenangkan hati.

Rasulullah pun pernah mengisyarakatnya, adakalanya seseorang hendak diangkat derajatnya oleh Allah, tetapi amal ibadahnya tak mencukupi untuk sampai ke derajat itu, lalu Allah turunkan ujian agar Allah tahu ia mampu bersyukur atau bersabar dan sampailah derajat itu kepadaNya.
Sang ibu, sampai saat ini, berada dalam kondisi tegar.

Setiap pagi, setelah anak-anaknya berangkat ke sekolah, ia membaca dzikir al-Ma'tsurat yang didapatnya dari suvenir pernikahan salah seorang anak teman kantor suaminya, di teras rumahnya sambil memandang ikan-ikan di kolamnya. Ia masih terus tersenyum. Begitupun dengan suaminya. padahal tak semua orang mampu bertahan dengan fitnah yang ditimpakan oleh anaknya kepada orang tuanya. Tapi ia tetap melangkah. Allah senantiasa tahu yang terbaik untuk kita....