Thursday, December 6, 2018

IMAM THOWUS DALAM MENJAGA DO'A TASYAHUD

IMAM THOWUS DALAM MENJAGA DO'A TASYAHUD


Imam Thowus adalah seorang ulama' yang mashur dizamannya, beliau sangat menjaga sunnah- sunnah Rosululloh.

Diceritakan bahwa Imam Thowus mempunyai mempunyai seorang anak

Ketika anaknya sholat sunnah Imam Thowus memperhatikan gerakan sang anak sholat, setelah sang anak salam, Imam Thowus mendekatinya dan berkata:
"Cepat sekali engkau dalam melakukan tasyahud"

"Apakah engkau tidak membaca do'a ketika tasyahud akhir?"

"Tidak wahai ayah..." jawab anak tersebut

"Jika demikian ulangi lagi sholat sunnah mu tersebut. "

Kemudian sang anak tersebut mengulangi Sholat sunnah nya.



_

Do'a ba'da tasyahud akhir

اَللّهُمَ اِنِّيْ أعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَا ب القَبْر . و من عَذَاب خَهَنَّم . وَ مِنْ فِتْنَةِ المَحَياَ والمَمَات . ومن شَرِّفِتْنَةِ المَسِيْحِ الدَّجاَّلِ

اللّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيْراً . ولا يَغْفِرُ الذُنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ . فاَغْفِرْلِي مَغْفِرَةً من عِنْدِكَ وَارِْحْمنِي إِنَّكَ أَنتَ الغَفُوْرُ الرَّ حِيمِ

"Ya alloh....sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari siksaan kubur, siksa neraka jahannam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah almasih Dajjal"

"Ya Alloh, sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya engkaj maha pengampun dan maha penyayang"


✍🏼 Oleh ::
Abuya Nur Hasanuddin Abdul Latief

MENCARI BAHAGIA DENGAN MEMBERI KEBAHAGIAAN

MENCARI BAHAGIA DENGAN MEMBERI KEBAHAGIAAN



Suatu hari seorang guru berjalan bersama muridnya disebuah ladang.

Tiba-tiba mereka menemukan sepatu usang milik seorang petani. Sang murid berkata pada gurunya,
"Wahai guru, bagaimana kalau kita bercandai petani itu dengan menyembunyikan sepatu miliknya.
Kita lihat bagaimana reaksinya nanti".

Sang guru berkata,
"Wahai anakku, kita tidak boleh menghibur diri atau mencari kebahagiaan dengan cara membuat orang lain sedih.
Lagipula kamu kan orang kaya, kamu bisa membuat dirimu dan dirinya bahagia dalam waktu bersamaan.

"Bagaimana caranya wahai guru...?"

"Letakkan beberapa dinar pada kedua sepatunya, lalu kita cari tempat persembunyian sembari melihat bagaimana reaksinya nanti".
Jawab sang guru.

Si murid melakukan apa yang diminta oleh gurunya, keduanya lalu bersembunyi di balik semak-semak menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Beberapa saat kemudian datanglah petani miskin itu, bajunya terlihat kumal setelah seharian bekerja.

Lalu ia memakai sepatunya, tetapi tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang mengganjal pada kakinya.

Diperiksalah sepatunya tersebut, tiba-tiba dia menemukan beberapa keping dinar. Hal yang sama ia temukan pada sepatunya yang satu lagi. Dilihatnya dinar-dinar itu dengan pandangan seperti tidak percaya, dia memastikan kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Pandangannya kesana kemari pada sekeliling pematang, namun tak ada seorangpun disana.

Iapun tersungkur sujud, lalu mengangkat wajahnya ke langit sambil berkata,
"Aku bersyukur kepadaMu wahai Rabbku, Wahai yang Maha tahu bahwa istriku sedang sakit dan anakku sedang kelaparan dan tidak menemukan apapun untuk mengganjal perutnya.
Syukurku pada-Mu yang telah menyelamatkan kami dari kebinasaan..."

Petani itu terus menatap ke langit sambil memuji Alloh

Si murid pun terenyuh. Ia tak kuasa membendung air mata bahagianya.

Sang guru bertanya,
"Bukankan sekarang kamu lebih bahagia ketimbang kamu menyembunyikan sepatu milik petani itu..?

Manakah yang lebih baik, kamu bahagia karena menderitakan orang lain, atau kamu bahagia karena membahagiakan orang lain..?

Sang murid menjawab,
"Aku mengerti guru. Aku baru saja belajar hal yg takkan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Sekarang aku baru mengerti sebuah kalimat yang sebelumnya tidak aku fahami dengan baik,
"Saat kau memberi,  kau akan lebih bahagia ketimbang saat kamu menerima".

Sang guru menambahkan,
"Wahai anakku... " Jangan sekali-kali mencari kebahagiaan dengan cara menderitakan orang lain.
Kebahagiaanmu dimulai ketika kau membahagiakan orang lain."

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI


Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama istri dan keluarganya yang lain.

Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masjid dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau senantiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT.

Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau.

Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh ke negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah. “Assalaamuálaikum.” kata Soleh.“Waálaikumussalaam warahmatullah” jawab Muhammad bin Wasi’Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanya kabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir” “Ke rumah Abu Jahir?”“Ya, betul”“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.”

Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa waktu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanya kabar.“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Aku juga dalam perjalanan ke sana.”“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan karena bilangan mereka semakin ramai.

 Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama.

Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rekan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersalaman dan saling bertanya kabar.“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”“Segala puji-pujian bagi Allah SWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-Bannani

Berjalanlah ke lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur kepada Allah SWT justru mengaruniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah Wali-Nya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat. Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan salat.“Marilah kita salat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain. Lalu mereka mengerjakan salat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawaduk. Setelah menunaikan salat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekaliannya untuk di dunia dan di akhirat.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk sholat. Tidak berapa lama kemudian, waktu Zuhur pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa berucap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamat dan sholat. Kelima tetamunya yang mulia itu sholat berjemaah berimamkan Abu Jahir.

Selepas salat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu.

Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’. “Assalaamuálaikum” kata Muhammad “Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan “Anda ini siapa?”“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ ““O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus salatnya itu kan?”Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak salatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.

Tiba pula giliran Malik bin Dinar.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”Malik juga tidak berkata apa-apa.

Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu Jahir Seperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri.

Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya. “Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.” Soleh juga tidak mengeluarkan sepatah pun.

Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al Quran karena aku ingin sangat mendengarnya.”Soleh memenuhi permintaannya lalu dia membuka Al Quran dan membaca Surah Al Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang beterbangan ”Sebaik saya mendengar bacaan ‘debu yang beterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pingsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT.
Apabila beliau sadar dari pingsannya, dia berkata “Silakan ulangi pembacaan ayat tadi” Soleh mengulangi bacaannya dan apabila sampai kepada “Debu yang beterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu.

Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, istri Abu Jahir muncul.“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.

Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat” Soleh dan rekan-rekan wali Allah nya merasa heran terhadap perempuan itu, karena dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.“Dari mana puan tahu bahwa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka keheranan.“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat” Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.

Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengafankan, mensholati hingga menguburkan.




✍🏼 Oleh ::
Habib Shulfi Bin Abunawar Alaydrus


_

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN


Dahulu ada seorang ahli Kitab yang menyamar sebagai seorang Muslim dan berusaha mencari-cari kesalahan umat Islam.  Ia suka menghadiri majelis para ulama dan mengajukan berbagai pertanyaan yang berat.  Pada suatu hari ia menghadiri majelis seorang ulama yang saleh dan memiliki cahaya.  Ia bertanya kepadanya, “Wahai Tuanku, apakah makna sabda Nabi saw berikut:

إِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allâh.”  (HR Tirmidzî)

Orang saleh itu menunduk sejenak lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Makna sabda Rasûlullâh saw tadi adalah potonglah Zunnâr (Zunnâr: selendang yang harus dikenakan oleh kafir dzimmî yang hidup di negara Islam, untuk membedakan mereka dengan umat Islam.) yang terikat di dadamu dan keluarlah engkau dari masjid.”

Ia menjelaskan hakikat hadis itu dan sekaligus membongkar rahasia si penanya yang kafir itu. 

Si ahli kitab lalu menghampiri sang Syeikh, bersimpuh di hadapannya lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allâh dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya.” 

Ia kemudian menjadi seorang Muslim yang baik.


__

Allâh akan memberi seorang Mukmin cahaya sesuai tingkat keimanannya.  Dengan cahaya itu dia mampu melihat hakikat segala sesuatu dan tidak tertipu oleh bentuk lahiriahnya.  Menurut para Muhaqqiq iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. 

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

Dan barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allâh, maka sedikit pun dia tidak memiliki cahaya.  (An-Nûr, 24:40)




📚 Sumber ::
 kitabnya Tâjul A’rôs, Habib Ali bin Husein Al-‘Athâs Bungur

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT


Diceritakan suatu waktu Imam Abu Hanifah didatangi seseorang yang mengadukan masalahnya, sambil berkata
"Wahai Imam sesungguhnya aku telah kehilangan uang, apa yang harus aku lakukan agar uangku kembali?

"Sholatlah engkau sebanyak 100 roka'at, dengan izin Alloh uang mu yang hilang akan kembali..."

Setelah mendapatkan anjuran Imam Abu Hanifah Orang tersebut berpamitan dan bergegas menuju tempat sholat.

Sholat ia laksanakan dua roka'at, empat roka'at  dan baru dipertengahan roka'at kelima ia teringat bahwa ia lupa telah menyimpan uang di rumahnya sendiri.

Selang beberapa waktu ia kembali menemui Imam Abu Hanifah seraya berkata
"Wahai imam aku telah menemukan uangku kembali..."

"Dimana engkau menemukannya?"

"Sesungguhnya aku telah lupa bahwa aku sendiri yang menyimpanya..."

"Berapa banyak roka'at sholat telah engkau kerjakan tadi?"

"Baru empat roka'at wahai Imam".

Kemudian Imam Abu Hanifah berkata
"Sesungguhnya itu adalah tipu daya setan, setan tidak akan pernah ridho engkau mendapatkan keuntungan akhirat dari pahala sholat yang engkau kerjakan. Sehingga setan berupa membuat engkau mengingat uangmu itu ketika dalam Sholat".

Orang tersebut terdiam



_

 Sesungguhnya Alloh menerima Sholat hanya berdasarkan kekhusyu'an didalamnya.

Rosululloh bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba yang mengerjakan sholat. Tetapi tidak mendapatkan nilai pahala sholat tersebut kecuali hanya seperenam atau sepersepuluhnya saja. Nilai atau pahala Sholat Seseorang itu tergantung pada banyak atau sedikitnya amalan yang dikerjakan dengam khusyu'"

Imam Hasan Albashri berkata :
"Setiap sholat yang tidak dikerjakan dengan kekhusyu'an hati, maka sholat itu justru mempercepat turunnya siksaan"




✍🏼 Oleh ::
Abuya Nur Hasanuddin Abdul Latief

_