Tuesday, November 13, 2018

Usiaku sudah 40 tahun. Apa yang mesti dilakukan?

Usiaku sudah 40 tahun. Apa yang mesti dilakukan?

Usia Sudah 40 tahun

Allah Ta’ala berfirman,
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
ROBBI AWZI’NII AN ASYKURO NI’MATAKALLATII AN ‘AMTA ‘ALAYYA. WA ‘ALAA WAALIDAYYA WA AN A’MALA SHOOLIHAN TARDHOOHU, WA ASHLIH LII FII DZURRIYATII.
“Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya.
Imam Malik berkata,
أَدْرَكْتُ أَهْلَ العِلْمِ بِبَلَدِنَا وَهُمْ يَطْلُبُوْنَ الدُّنْيَا ، وَيُخَالِطُوْنَ النَّاسَ ، حَتَّى يَأْتِيَ لِأَحَدِهِمْ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً ، فَإِذَا أَتَتْ عَلَيْهِمْ اِعْتَزَلُوْا النَّاسَ
“Aku mendapati para ulama di berbagai negeri, mereka sibuk dengan aktivitas dunia dan bergaulan bersama manusia. Ketika mereka sampai usia 40 tahun, mereka menjauh dari manusia.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an, 14:218)
Ibnu Katsir menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun, maka sempurnalah akal, pemahaman dan kelemah lembutannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:623)
Sebagaimana diterangkan oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullah, para ulama pakar tafsir menyatakan bahwa tidaklah seorang nabi diutus melainkan mereka telah berusia 40 tahun. Ayat ini menunjukkan bahwa jika seseorang mencapai usia 40 tahun, ia membaca doa seperti yang terdapat dalam ayat di atas. (Fath Al-Qadir, 5:24)

Umur di antara Umatku 60 – 70 Tahun

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ
Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kalau sudah sulit untuk beramal, kita bisa memanfaatkan amalan ringan sebagai tambahan bekal. Apalagi orang shalih, pahalanya tetap ada walau pun sudah sulit beramal di usia tua.

Sedari Muda Sudah Beramal

Allah Ta’ala berfirman,
وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tiin: 1-8)
Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya seperti di waktu mudanya yaitu dalam keadaan kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilih oleh ‘Ikrimah.
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qatadah, juga Adh-Dhahak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal.”
Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda, yaitu masa emas untuk beramal shalih.
Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka dia akan dicatat sebagaimana dahulu (di waktu muda) dia pernah beramal. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”
Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah yang artinya “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka. Walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, maka mereka tidak akan berhenti dari beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaad Al-Masiir, 9:172-174 dan Tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 7:72)
Jika seseorang sulit beramal di waktu tua padahal waktu mudanya gemar beramal, maka ia tetap dicatat seperti keadaannya di waktu muda. Sama halnya keadaannya seperti orang yang sakit dan bersafar. Dalam hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
Jika seorang hamba sakit atau bersafar, maka dicatat baginya semisal keadaan ketika ia beramal saat mukim atau sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Berlindung dari Keadaan Jelek di Waktu Tua

Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan. Mintalah juga perlindungan kepada Allah dari usia tua yang jelek sebagaimana do’a yang Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan do’a,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ
“ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL KASL WA A’UDZU BIKA MINAL JUBN, WA A’UDZU BIKA MINAL HAROM, WA A’UDZU BIKA MINAL BUKHL” (Artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari rasa malas, aku meminta perlindungan pada-Mu dari lemahnya hati, aku meminta perlindungan pada-Mu dari usia tua (yang sulit untuk beramal) dan aku meminta perlindungan pada-Mu dari sifat kikir atau pelit).” (HR. Bukhari, no. 6371)
Ada empat hal yang diminta dilindungi dalam doa di atas:
1- Sifat al-kasal, yaitu tidak ada atau kurangnya dorongan (motivasi) untuk melakukan kebaikan padahal dalam keadaan mampu untuk melakukannya. Inilah sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi rahimahullah.
Bedanya dengan kasal dan ‘ajz, ‘ajz itu tidak ada kemampuan sama sekali, sedangkan kasal itu masih ada kemampuan namun tidak ada dorongan untuk melakukan kebaikan.
2- Sifat al-jubn, artinya berlindung dari rasa takut (lawan dari berani), yaitu berlindung dari sifat takut untuk berperang atau tidak berani untuk beramar ma’ruf nahi mungkar. Juga do’a ini bisa berarti meminta perlindungan dari hati yang lemah.
3- Sifat al-harom, artinya berlindung dari kembali pada kejelekan umur (di masa tua). Ada apa dengan masa tua? Karena pada masa tua, pikiran sudah mulai kacau, kecerdasan dan pemahaman semakin berkurang, dan tidak mampu melakukan banyak ketaatan.
4- Sifat al-bukhl, artinya berlindung dari sifat pelit (kikir). Yaitu do’a ini berisi permintaan agar seseorang bisa menunaikan hak pada harta dengan benar, sehingga memotivasinya untuk rajin berinfak (yang wajib atau yang sunnah), bersikap dermawan dan berakhlak mulia. Juga do’a ini memaksudkan agar seseorang tidak tamak dengan harta yang tidak ada padanya. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 17:28-30)
Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Sabtu  shubuh, 15  Shafar 1439 H
Artikel Rumaysho.Com


Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/16690-usiaku-sudah-40-tahun.html

Bila Usiamu Telah Sampai 40 Tahun

Berkenaan dengan usia 40 tahun, Allah SWT berfirman:
حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“…Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa: ‘Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir terus sampai kepada anak-cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’ (QS. Al-Ahqaf:15)
Bila usia 40 tahun, maka manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan masa mudanya dan melangkah ke masa dewasa yang sebenar-benarnya.
Bila usia 40 tahun, maka manusia hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian, semakin meneguhkan tujuan hidup, menjadikan uban sebagai peringatan dan semakin memperbanyak syukur.
Bila usia 40 tahun, maka meningkatlah minat seseorang terhadap agama, meski semasa mudanya jauh sekali dengan agama. Banyak yang akhirnya menutup aurat dan mengikuti kajian-kajian agama. Jika ada orang yang telah mencapai usia ini, namun belum ada minatnya terhadap agama, maka ini pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.
Bila usia 40 tahun, maka tidak lagi banyak memikirkan “masa depan” keduniaan, mengejar karier dan kekayaan finansial. Tetapi sudah jauh berpikir tentang nasibnya kelak di akhirat. Bahkan tak hanya memikirkan dirinya semata, tapi juga nasib anak-istrinya, seperti ujung doa indah ayat di atas “…dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku…”
Bila usia 40 tahun, maka akan sulit diubah kebiasaan pada usia-usia sesudahnya. Jika masih gemar melakukan dosa dan maksiat, seperti meninggalkan shalat, berzina, dll, maka akan sulit baginya untuk berhenti dari kebiasaan tersebut.
Bila usia 40 tahun, maka perbaikilah apa-apa yang telah lewat dan manfaatkanlah dengan baik hari-hari yang tersisa dari umur yang ada, sebelum ruh sampai di tenggorokan. Ingatlah menyesal kemudian tiada guna.
Abdullah bin Abbas ra berkata: “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantap dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”
Imam asy-Syafi’i rahimahullah tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab: “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk-pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”
Abdullah bin Dawud rahimahullah berkata: “Kaum salaf, apabila di antara mereka ada yang sudah berumur 40 tahun, ia mulai melipat kasur, yakni tidak akan tidur lagi sepanjang malam, selalu melakukan shalat, bertasbih dan beristighfar. Lalu mengejar segala ketertinggalan pada usia sebelumnya dengan amal-amal di hari sesudahnya.” (Ihya Ulumiddin IV/410)
Imam Malik rahimahullah berkata: “Aku dapati para ahli ilmu di negeri kami mencari dunia dan berbaur dengan manusia hingga datang kepada mereka usia 40 tahun. Jika telah datang usia tersebut kepada mereka, mereka pun meninggalkan manusia (yaitu lebih banyak konsentrasinya untuk meningkatkan ibadah dan ilmu).” (At-Tadzkirah hal 149)
Muhammad bin Ali bin al-Husain rahimahullah berkata: “Apabila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka berserulah penyeru dari langit: ‘Waktu berpulang semakin dekat, maka siapkanlah perbekalan.’
An-Nakha’i rahimahullah berkata: “Sebelumnya mereka menggapai dunia, di saat menginjak usia 40 tahun mereka menggapai akhirat” (At-Tadzkarah al-HamduniyahVI/11)
Wahai saudaraku, bagaimana dengan dirimu?

EH / Islam Indonesia

BOLA MATA PEMBAWA FITNAH

BOLA MATA PEMBAWA FITNAH



Di kisahkan bahwa, seorang pemuda terpesona kepada  seorang  gadis yang sangat cantik. Hatinya selalu dalam kegelisahan sejak pandangan pertamanya kepada gadis tersebut, selalu bergetar dengan getaran yang semakin menjadi-jadi, setiap kali bayangan wanita itu terlintas dalam lamunannya. Betapa tersiksanya ia dengan perasaan cintanya pada sang gadis, ia benar-benar terpedaya dengan segala keindahan gadis tersebut, yang tidak ada duanya baginya.

 Hingga kemudian ia pun memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah surat kepada wanita itu melalui seorang budaknya yang diletakkan di atas nampan perak dan ditutupi dengan kain sutera berwarna kuning : "Wahai engkau yang sudah membuat diriku dimabuk kepayang setelah memandang wajahmu, kiranya hasrat untuk menyampaikan perasaanku bisa mengurangi kegundahanku karena senantiasa mengingat dan  membayangkan  wajahmu".

Gadis itu pun membalas surat dari sang pemuda : "Wahai pemuda, kiranya apakah yang membuat dirimu amat tertarik melihat ku…?".

Sambil melancarkan jurus rayuannnya sang pemuda pun membalas : "Aku begitu terpesona dengan keindahan matamu".

Membaca surat dari sang pemuda tersebut, Sang Gadis yang cantik jelita itu pun mengambil pisau dan mencongkel kedua bola matanya, dan mengirimkan kedua bola matanya bersama surat balasan kepada sang pemuda :"Wahai pemuda kalau kiranya kedua mata ini yang membuatmu terpikat, maka aku berikan kepadamu kedua bola mataku, Karena aku sendiri menjadi gelisah ternyata kedua mataku membawa fitnah bagimu".

Pemuda itu pun sangat terkejut, setelah membuka nampan yang ternyata berisi kedua bola mata  wanita  yang dicintainya. Ia menyesal dan merasa sangat malu pada dirinya sendiri.

Setelah mengetahui bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang suci dan sholehah. Pemuda itupun menangis berhari-hari meratapi kesalahnnya. Sejak kejadian itu dia bertobat kepada Alloh, dan menjadi seorang pemuda yang sholeh dan pemalu kepada wanita.




✍🏼 Oleh ::
Ustad Husnil Mubarrok

FIDA`MIN NAAR

FIDA`MIN NAAR 
(Tebusan dari api neraka)




وَرُوِيَ اَنَّ الشَّيْخَ اَباَ الرَّبِيْعِ اَلْمَالَقِيَّ كَانَ عَلَى مَائِدَةِ طَعَامٍ وَكَانَ قَدْ ذَكَرَ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ سَبْعِيْنَ اَلْفَ مَرَّةٍ وَكَانَ مَعَهُمْ عَلَى الْمَائِدَةِ شَابٌّ مِنْ اَهْلِ الْكَشْفِ فَحِيْنَ مَدَّ يَدَهُ اِلَى الطَّعاَمِ بَكَى وَامْتَنَعَ مِنَ الطَّعَامِ فَقَالَ لَهُ الْحَاضِرُوْنَ لِمَ تَبْكِيْ؟ فَقَالَ اَرَى جَهَنَّمَ وَاَرَى اُمِّيْ فِيْهَا. قَالَ الشَّيْخُ اَبُوْ الرَّبِيْعِ: فَقُلْتُ فِيْ نَفْسِيْ اَللَّهُمَّ اِنَّكَ تَعْلَمُ اَنِّيْ قَدْ هَلَّلْتُ سَبْعِيْنَ اَلْفًا وَقَدْ جَعَلْتُهَا عِتْقَ اُمِّ هَذَا الشَّابِّ مِنَ النَّارِ فَقَالَ الشَّابُّ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ أَرَى أُمِّيْ قَدْ خَرَجَتْ مِنَ النَّارِ وَمَا اَدْرِيْ مَا سَبَبُ خُرُوْجِهَا وَجَعَلَ هُوَ يَبْتَهِجُ وَاَكَلَ مَعَ الْجَمَاعَةِ. وَهَذَا التَّهْلِيْلُ بِهذَا الْعَدَدِ يُسَمَّى عَتاَقَةَ صُّغْرَى كَمَا اَنَّ سُوْرَةَ الصَّمَّدِيَّةِ إِذاَ قُرِئَتْ وَبَلَغَتْ مِائَةَ اَلْفِ مَرَّةٍ تُسَمَّى عَاتَقَةً كُبْرَى وَلَوْ فِيْ سِنِيْنَ عَدِيْدَةٍ فَاِنَّ الْمُوَالَاةَ لَا تُشْتَرَطُ.


Diriwayatkan bahwa Syekh Abu Ar Robi’ Al Malaqi, berada di jamuan makanan dan beliau telah berdzikir dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah 70 ribu kali.

 Di jamuan tersebut terdapat seorang pemuda ahli kasyaf. Ketika pemuda itu akan mengambil makanan tiba-tiba ia mengurungkan mengambil makanan itu,
lalu ia ditanya oleh para hadirin "mengapa kamu menangis?"

 Ia menjawab, saya melihat neraka jahanam dan melihat ibu saya di dalamnya.

Kata syekh Abu al-Rafi’, saya berkata di dalam hati, “Ya Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa saya telah berdzikir Laa Ilaaha Illallaah 70 ribu kali dan saya mempergunakannya untuk membebaskan ibu pemuda ini dari neraka”.
Setelah itu pemuda tersebut berkata, “Alhamdulillah, sekarang saya melihat ibu saya telah keluar dari neraka, namun saya tidak tahu apa sebabnya”. Pemuda itu merasa senang dan kemudian makan bersama dengan para hadirin.



_

Dzikir Laa Ilaaha Illallaah 70 ribu kali dinamakan ataqoh sughro (pembebasan kecil dari neraka), sedangkan surat Al Ikhlas jika dibaca 100 ribu kali dinamakan ataqoh kubro (pembebasan besar dari neraka) walaupun waktu membacanya beberapa tahun, karena tidak disyaratkan berturut-turut.





📚 Sumber ::
Kitab Syarah Al Futukhat Al Madaniyah Bihamisyi Nasha'ih Al Ibad)

PERSAHABATAN AKAN DIMINTAI PERTANGGUNG JAWABAN

PERSAHABATAN AKAN DIMINTAI PERTANGGUNG JAWABAN


Dalam satu riwayat diterangkan, bahwa pada suatu waktu Rosululloh masuk ke hutan.

Beliau lalu memetik dua potong kayu arok, yang satu bengkok yang satu lagi lurus. Kemudian kayu yang lurus itu diberikan kepada seorang sahabat yang menyertainya. Sedangkan beliau sendiri mengambil yang bengkok.

Sahabat itu kemudian bertanya kepada Rosululloh
"Wahai Rosululloh, sebenarnya engkau lebih berhak mengambil kayu yang lurus ini daripada saya..."

Lantas Rosululloh menjawab

ماَمِنْ صاَحِبٍ يَصْحَبُ صاَحِباًوَلَوْساَعَةًمِنْ نَهَارٍاِلاَّسُئِلَ.
هَلْ اَقَامَ فِيْهاَ حَقَّ الله تعالى اَوْاَضاَعَهُ.

"Orang yang berteman, meskipun sesaat diwaktu siang akan ditanyai tentang persahabatannya. Apakah dia dalam persahabatannya itu telah memenuhi hak-hak yang diatur oleh Alloh atau menyia-nyiakannya."





📚 Sumber ::
Bidayatul Hidayah-Imam Ghozali

ANAK YANG MENGADUKAN AYAHNYA KEPADA ROSULULLOH

ANAK YANG MENGADUKAN AYAHNYA KEPADA ROSULULLOH


Diriwayatkan bahwa seorang anak datang menemui Rosululloh mengadukan bahwa ayahnya telah mengambil hartanya. Rosululloh kemudian berkata kepadanya
"Pergilah dan datanglah kemari bersama ayahmu."

Ketika anak itu pergi, malaikat jibril datang menemui Nabi dan berkata
"Wahai Muhammad, tuhanmu mengucapkan salam kepadamu dan berkata. 'jika orang tua anak tersebut tiba,maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya dan tidak didengar oleh kedua telinganya.'"

Ketika orang tua anak tersebut tiba, Rosululloh berkata kepada nya
"Mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mengambil hartanya?"

"Ya Rosululloh, tanyakanlah kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa, kepada salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?" jawabnya.

"Perkenankanlah aku untuk tidak membahas hal ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu dan tidak didengar oleh kedua telingamu." tanya Rosululloh

"Demi Alloh wahai Rosululloh, Alloh selalu membuat kami semakin yakin kepadamu. Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tudak didengar oleh kedua telingaku." jawabnya

"Sampaikanlah. Aku akan mendengarkanya." jawab Rosululloh

Orang tua itu lalu membacakan sebuah syair kapada anaknya

غذوتك مولوداوصنتك يافعا
تعل بماأجني عليك وتنهل

إذاليلةضاقتك بالسقم لم أبت
لسقمك إلاساهراأتململ

كأ ني أناالمطروق دونك بالذي
طرقت به دوني فعيني تهمل

تخاف الردى نفسي عليك وإنها
لتعلم أن الموت وقت مؤجل

فلمابلغت السن والغاية التي
إليها مدى ما كنت منك أؤمل

جعلت جزاءئ غلظة وفظاظة
كأنك أنت المنعم المتفضل

فليتكإذالم ترع حق أبوتي
فعلت كما الجار المجاور يفعل

Ketika engkau lahir aku memberimu makan
Dan ketika engkau tumbuh dewasa aku selalu menjagamu
Engkau diberi minum dari jerih payahku
Jika malam hari engkau sakit
Maka sepanjang malam aku tidak tidur
Bergadang memikirkan penyakitmu
Hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk
Seakan-akan aku yang sakit bukan kau
Air mataku pun mengalir deras
Dan jiwaku khawatir kau akan mati
Padahal dia tau bahwa ajal akan tiba sesuai waktunya
Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat dimana kuharapkan dirimu
Kau balas diriku dengan kekejaman dan kekasaran
Seaka-akan engkaulah pemberi nikmat
Dan yang dermawan
Andai saja ketika tak kau penuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan


Mendengar syair sang ayah, maka air mata Rosululloh pun berjatuhan, seraya berkata kepada sang anak

أَنْتَ وَ ماَلُكَ لِاَبِيْكَ
"Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu"







📚 Sumber ::
Al-Futuhatul 'Aliyyah fil Khuthobil Mimbariyyah - Sayyid Zein Bin Ibrahim Bin Sumaith

KEUTAMAAN ALFATIHAH

KEUTAMAAN ALFATIHAH



Abu sa'id Al-Khudri Rodhiyallohu 'anhu bercerita :

Suatu hari Rosululloh mengutus kami dalam sebuah perjalanan. Jumlah kami pada saat itu 30 orang, semuanya menunggang kendaraan.

Tibalah kami disebuah perkampungan pedalaman, kami meminta makan, tetapi mereka tidak bersedia menjamu kami.

Tak lama kemudian kepala suku desa tersebut disengat kalajengking berbisa. Para tabib berupaya mengobati, tetapi mereka semua gagal dan menyerah.

Akhirnya mereka mendatangi kami dan berkata
"Diantara kalian ada yang mampu meruqyah seseorang yang tersengat kalajengking?"

"Ya, aku bisa. Aku hanya akan meruqyah kepala dusun kalian jika kalian mau memberi kami upah." jawabku

"Kami akan memberimu 30 ekor kambing." ujar mereka

Aku kemudian meruqyahnya dengan membaca surah alfatihah sebanyak tujuh kali.

Kepala suku itu langsung dapat berdiri dan berjalan, seperti onta yang baru lepas dari ikatannya.

Abu Sa'id Al-Khudri kemudian membawa 30 ekor kambing itu menghadap Rosululloh untuk menanyakan kepastian hukumnya. Ia ceritakan apa yang terjadi kepada Rosululloh.

Rosululloh kemudian bersabda

وَماَيُدْرِيْكَ أَنَّهاَرُقْيَةٌ ؟
قَدْأَصَبْتُمُ اقْسِمُواوَاضْرِبُوالىِ مَعَكُم سَهْماً

"Darimana kau tahu jika surah alfatihah itu dapat digunakan untuk meruqyah? Perbuatan kalian benar, bagilah kambing itu dan beri aku satu."

Rosululloh kemudian tersenyum





📚 Sumber ::
Inilah jawabannya- Habib Novel Bin Muhammad Alaydrus

MENUNDUKKAN KESOMBONGAN

MENUNDUKKAN KESOMBONGAN




Disebutkan bahwa syeikh Mahalli setiap kali berada dihadapan murid-muridnya, beliau memerintahkan mereka untuk memperlajari materi yang akan dibahas dan kemudian beliau meninggalkan mereka. Tak lama setelah itu beliau kembali menemui mereka dan menjelaskan materi yang mereka pelajari.

Melihat hal ini, salah seorang muridnya yg cerdas berkata
"Sang syeikh selalu bergegas meninggalkan kami diawal pelajaran pasti karena sebuah urusan penting."

Ketika syeikh Mahalli meninggalkan mereka seperti biasanya, murid itu pun membuntutinya.

Ternyata ia mendapati syeikh Mahalli memikul geriba berisi air dan memberikannya kepada para wanita tua yang lemah dan tak mampu mengambil air sendiri.

Melihat hal ini sang murid berkata kepadanya,
"Mengapa engkau meninggalkan kami diawal pelajaran dan melakukan ini semua?"

"Sesungguhnya didalam diri seorang guru (pengajar) terdapat perasaan mulia, dan bahaya serta bisikan buruk yang terlintas saat mengajar sangat banyak.
Sebagaimana kamu lihat, sesungguhnya aku hanyalah seorang penimba dan pengangkut air. Dengan cara seperti inilah aku dapat mematahkan perasaan mulia yang ada dalam hatiku. Dan tugas mengambil air inilah yang kuharapkan pahalanya disisi Alloh." jawab Syeikh Mahalli





📚 Sumber ::
Kitab Ihya' 'Ulumuddin - Imam Ghozali

OBAT PENAWAR GHIBAH DARI RASULULLAH

OBAT PENAWAR GHIBAH DARI RASULULLAH



Syaikh Muhammad Abul Mawahib Asy-Syadzili, murid dari Syaikh Abu Sa’id Ash-Shafrawi, beliau adalah seorang ulama besar yang pernah mengajar di Universitas Al Azhar, Mesir.


Beliau sering bermimpi berjumpa dengan Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam. Syaikh Abul Mawahib Asy Syadzili pernah menyatakan; "Aku bermimpi melihat Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam berada di lantai atas Universiti Al Azhar pada tahun 825 H.

Lalu Baginda meletakkan tangannya di dadaku dan bersabda, “Wahai anakku, ghibah itu haram hukumnya. Tidakkah kau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : Janganlah sebahagian kamu membicarakan keburukan (ghibah) sebahagian yang lain.”

 Kemudian Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam melanjutkan, “Jika kamu tak dapat menghindari untuk mendengar orang-orang berghibah, maka bacalah surat Al Ikhlas, Al Falaq dan An-Nas, lalu hadiahkanlah pahalanya kepada orang yang dighibahi atau dibicarakan keburukannya itu, kerana (mendengarkan) ghibah dan pahala dari bacaan tersebut berimbang.”




📚Sumber ::
Dikutip dari kitab Afdholus Solawat 'Ala Sayyidis Saadaat - Al Imam Yusuf Ibn Isma'il An Nabhani

MENCARI ILMU KARENA INGIN MEMINANG PUTRI SEORANG ALIM ULAMA

MENCARI ILMU KARENA INGIN MEMINANG PUTRI SEORANG ALIM ULAMA 



Disebutkan bahwa sesungguhnya( ALHABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN ALHABSYI) dahulu beliau tdk memiliki ilmu sedikitpun lantas sebab beliau mau mencari ilmu adalah pada suatu kesempatan beliau meminang /mengkhitbah anak seorang alim ulama pada masa itu yg bernama ALHABIB MUHAMMAD BIN QUTBAN .

Tdk lama dari itu maka alhabib muhammad bin husen alhabsyi meminangnya kpd habib muhammad qutban akan tetapi syang nya alhabib muhammad qutban tidak meresponnya bahkan spontanitas beliau berkata ;
" ketahuilah sesungguhnya aku tidak akan menikahi putriku kpd seseorang lelaki yg buta akan ilmu" !!!

Tujuan dr pd habib muhammad qutban itu tdk lain dn tdk bukan hanya ingin memberikan semangat kpd nya agar bisa menimba ilmu dan mencari nya

Dengan sebab perkataan itulah alhabib muhammad bin husen alhabsyi pergi mencari ilmu dngn semngat yg bgtu luar biasa krna terpukul sekali atas ucapan alhabib muhammad bin qutban itu.

Beliau belajar tafsir alquran ,hadis ,fiqih dan ilmu sastra smpai brpa taun yg silam beliau mnjadi orang alim bahkan smpe martabat mufti(ahli fatwa)di kota hijaz sana
Stelah kepulngan beliau dr menuntut ilmu alhabib muhammad qutban yg tdi nya ayah dr si putri trsebut mengambil pula ilmu alat sprti nahwu, sorof dan balaqoh kpd alhabib muhammad bin husen alhabsyi lalu menikahi putri nya .



_

Ada sya'ir yg mengatakan :

حياة الفتي بالعلم والتقي# اذالم يكونا لاعتبار لذاته

Kehidupan yg hakikat bagi seorang pemuda adalah dngn menyibukan drinya trhadap ilmu dan dihiasi kesehariannya dngan ketaqwaan kpd alloh swt ,seandainya tdk ada 2 prkara itu trhdp pemuda maka tdk ada guna nya pemuda hidup didunia




📚 Sumber ::
Diambil dr kitab
( تحفة الاشراف) hal 101 juz 2 

RAHMAT ALLOH YANG DIHARAPKAN

RAHMAT ALLOH YANG DIHARAPKAN



Diriwayatkan bahwa di akhirat nanti ada 2 ruh yang di siksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya di keluarkan dari neraka, setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka berdua :

"Apakah yang menyebabkan kalian masuk Neraka?".

  "Nafsu kami". jawab mereka berdua.

 Allah berkata : "Bukankah telah Kularang kalian untuk bermaksiat kepadaKu? Bukankah Aku telah mengutus para Rosul, dengan bukti-bukti yang nyata? Dan bukankah telah Kuperingatkan kalian lewat lisan para Ulama'? Bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh Surga, itana, wildan, dan bidadari. Dan orang-orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka. Bersama Qorun, Fir'aun dan Hamman?".

 "Maha Benar Engkau Ya Allah, akan tetapi kami tidak taat, dan selalu bermaksiat kepadaMu". Jawab mereka berdua.

 Allah pun memerintah kan : "Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakan siksaku yang sangat pedih".   

 Ruh yang satu bergegas dan segera kembali ke neraka, Namun Ruh yang satu lagi, berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh kebelakang.

  Allah pun memanggil kembali kedua ruh tersebut. "Mengapa engkau berjalan dengan cepat menuju Neraka?" Tanya Allah kpd Ruh yg pertama.

  "Ya Allah, dahulu ketika aku hidup di dunia, aku selalu membengkang perintah-perintahMu, maka sudah seharusnya sekarang aku taat kepadaMu".

  "Dan kau, mengapa engkau tidak segera kembali tapi malah lambat berjalan menuju Neraka?". tanya Alloh kepada Ruh yg kedua.

 "Ya Allah, aku sangat berharap akan ampunanMu, karena menurutku mustahil, jika Engkau mengembalikan kami ke Neraka setelah membebaskan kami dari nya (neraka)". jawab ruh yang kedua.   

Allah pun berkata : "Masuklah kalian berdua kedalam Surga ! , yang satu karena mentaati perintahKu, dan yang satu karena Percaya pada Rahmat dan kemurahanKu".                                 


✍ Oleh ::
Abuya Hasanuddin Abdul Lathif

PENCIPTAAN SURGA DAN NERAKA

PENCIPTAAN SURGA DAN NERAKA



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا


Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah S.A.W bersabda,

 "Setelah Allah SWT menciptakan syurga, Dia berkata kepada Jibril AS,
"Pergi dan lihatlah!"

 Kemudian Jibril pergi dan melihatnya.

 Dan berkata, 'Demi keagungan-Mu, sesungguhnya tidak ada satupun yang pernah mendengarnya kecuali pasti ingin memasukinya."
 Lalu jalan menuju syurga dihiasi dengan berbagai rintangan. Setelah itu,

Allah SWT berkata lagi kepada Jibril AS,
"Sekarang lihatlah!"

 Kemudian Jibril melihatnya dan berkata, 'Wahai Tuhanku, aku khawatir tidak akan ada yang bakal dapat memasukinya'. "

 Kemudian Rasulullah  meneruskan sabdanya, "Setelah Allah menciptakan neraka, Dia berkata kepada Jibril AS, 'Pergi dan lihatlah!' Maka Jibril pergi dan melihatnya.

 Ketika datang, Jibril berkata, 'Demi keagungan-Mu, tidak ada satupun yang pernah mendengarnya kecuali ia tidak akan mau memasukinya.' Lalu jalan menuju neraka dihiasi dengan hal-hal yang menyenangkan (nafsu syahwat).

 Setelah itu, Allah SWT berkata lagi, 'Sekarang pergi dan lihatlah.' Jibril AS pun pergi dan melihatnya. Setelah datang, ia berkata, 'Demi kaagungan-Mu. Aku khawatir semuanya akan masuk ke dalamnya'."



📚 Sumber ::
Sunan At-Tirmidzi

SHOLAWAT IMAM SYAFI’I

SHOLAWAT IMAM SYAFI’I


Disebutkan Bahwa Al Imam Al Ashbahaniy rahimahullah menceritakan :

 Aku bermimpi Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam kemudian aku bertanya pada beliau,

“Wahai Rasulullah, Anak pamanmu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i), apakah kau khususkan sesuatu untuknya?”

“Ya, aku memohon pada Allah agar tidak menghisabnya.” jawab beliau.

“Dengan apa dia bisa mendapatkan seperti itu, wahai Rasulullah?” tanyaku.

“Sesungguhnya dia pernah bersholawat atasku dengan kalimat yang belum pernah seorangpun mengucapkannya.”

“Apakah itu?” tanyaku kembali.

“Dia berkata,

اللهم صل على محمد كلما ذكرك الذاكرون، و صل على محمد و آل محمد كلما غفل عن ذكره الغافلون

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, kullamaa dzakaroka dz-dzaakiruun, wa sholli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad kullamaa ghofala ‘an dzikrihil ghoofiluun

‘Ya Allah limpahkan shalawat atas Nabi Muhammad, selama orang-orang yang  mengingatmu. Dan limpahkan solawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya, selama orang-orang yang lalai melalaikanmu.”


_

Disebut ‘anak pamanmu’ karena Imam Syafi’i berasal dari keluarga Bani Hasyim sebagaimana Nabi.





📚 Sumber ::
Disebutkan dalam kitab Al Mughniy l-Muhtaaj

Pahala Yang Berbanding Seperti Berdzikir Pada Waktu Subuh Sampai Waktu Dhuha

Pahala Yang Berbanding Seperti Berdzikir Pada Waktu Subuh Sampai Waktu Dhuha



عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ
رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai shalat Subuh dan dia tetap di tempat shalatnya.

Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat shalat dan  Setelah itu,

 Rasulullah menyapanya: "Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat shalatmu?"

 Juwairiyah menjawab; 'Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.'

 Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata (sebanyak tiga kali) yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

 SUBHAANALLOOHI WABIHAMDIHI 'ADADA KhOLQIHI WARIDhOO NAFSIHI WAZINATA 'ARSyIHI WA MIDAADA KALIMAATIHI

Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya



 ✍🏼 Oleh ::
Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus

GARA-GARA TUSUK GIGI, MENDAPAT HUKUMAN 70 TAHUN

GARA-GARA TUSUK GIGI, MENDAPAT HUKUMAN 70 TAHUN



Diriwayatkan bahwa, diantara mayat yang dihidupkan oleh Nabi Isa AS (Mukjizat Nabi Isa) adalah seorang yang telah meninggal selama 70 tahun.

Ketika kuburan terbuka dan ruh kembali lagi ke jasadnya, mayat orang itu terbangun dan bertanya, "Apakah kiamat telah terjadi?"

Orang-orang yang hadir ketika itu menjawab, "Belum... Tapi utusan Allah, Nabi Isa AS telah meminta kepada-Nya untuk menghidupkanmu"

Orang (mayat) tersebut bertanya, "Wahai Nabi Isa, mengapa engkau meminta untuk menghidupkan aku?"

Nabi Isa AS lalu bertanya, "Sejak kapan engkau meninggal?"

Orang itu menjawab, "Kurang lebih 70 tahun yang lalu"

Nabi Isa AS bertanya lagi, "Ceritakanlah, apa kebaikanmu?"

Orang itu menjawab, "rata-rata amalku baik dan Allah SWT telah mengampuniku... kecuali satu hal"

Nabi Isa AS bertanya, "Apa itu?"

Orang itu menjawab, "Pekerjaanku adalah tukang angkut barang... Suatu ketika aku mengangkut satu ikat kayu bakar milik seseorang dan ketika aku telah sampai kerumahnya untuk mengantarkan kayu bakarnya... Makanan kecil menyelip digigiku... Tanpa seizin darinya, aku mengambil potongan kecil dari kayu bakarnya untuk tusuk gigi...

Dan Allah SWT menghisabku gara-gara tusuk gigi itu dan Dia memerintah agar aku mengganti haq nya... Selama 70 tahun aku dihukum, gara-gara tusuk gigi itu...

Saat ini aku sedang menunggu si pemilik kayu bakar tersebut..
Bila ia telah meninggal dan menghalalkan tusuk gigi tersebut untukku, maka Alloh akan mengampuniku,
Jika tidak maka Alloh tidak akan mengampuniku selama pemiliknya tidak menghalalkannya




📚Sumber ::
Is'af Tholibi Ridhal Al-Kholaq bi Bayaani Makaarim Al-Akhlaaq  - Sayyidinal Imam Al Allamah, Al Habib Umar bin Hafizh

PURA-PURA GILA DIZAMAN DAHULU

PURA-PURA GILA DIZAMAN DAHULU



Di riwayatkan dari Abi Ma'syar
 Bahwa ada seorang laki-laki bersumpah tidak akan menikah sampai bertanya pada 100 orang karena begitu khawatir akan salah memilih, ketika hendak menggenapkan yang ke 100 ia pergi dan akan bertanya pada siapapun yang ia temui, di tengah perjalanan ia melihat seseorang yang kelihatannya tidak waras, mengalungkan tulang di lehernya, menghitamkan wajahnya dan membuat tongkat kayu sebagai kuda-kudaannya.

Sang pemuda coba memberi salam pada orang aneh ini, ia pun menjawab salam.

Pemuda: "Boleh aku bertanya sesuatu ?"

 "Silahkan, asalkan pertanyaan yang bermanfaat" jawab orang aneh tersebut.

"Aku khawatir salah memilih wanita, lalu aku bertekad tidak akan menikah sampai berhasil bertanya pada 100 orang, dan engkau adalah yang ke-100, apa pendapatmu ?"

"Ketahui lah bahwa wanita ada 3: menguntungkanmu, merepotkanmu dan tidak menguntungkan juga tidak merugikan,

Tipe yg pertama adalah yang masih bujang dan pintar, ketika mendapat kebaikan ia bersyukur, ketika di sakiti suaminya dia hanya berkata "semua lelaki sama".

Tipe kedua janda beranak, ia hanya akan mengambil hartamu lalu memberikannya kepada anak-anaknya

Tipe ketiga janda yang belum beranak, ketika mendapat kebaikan ia bersyukur, ketika tersakiti ia mengenang suami pertamanya."

Sang Pemuda takjub bercampur heran, ia kembali bertanya,
 "apa yg membuat anda bertingkah aneh aneh seperti ini ?"

"Tadi sudah ku bilang, kalau mau tanya yang ada manfaatnya saja, kalau soal ini tidak ada manfaatnya !"

Sang pemuda bersumpah agar si pria aneh memberi tau tentang hal ihwal dirinya, akhirnya ia mau memberi tau.

"Aku begini untuk menghindari permintaan orang agar aku menjadi qadhi !"

Pria aneh itu pun berlalu.




📚 Sumber ::
Fawaidul mukhtaroh 

PANAH TERINDAH

PANAH TERINDAH


Sekelompok pemanah menunggang kuda mereka menuju sebuah tempat yang terkenal sebagai sarang perampok.
Ketika sudah mendekati tujuan yang dimaksud, hari sudah gelap.

Mereka tidak mungkin lagi tiba di tujuan dengan suasana gelap seperti itu. Maka diputuskanlah untuk melepaskan tiga panah dari kejauhan ke tengah-tengah sarang perampok tersebut. Siapa tahu panah itu mengenai sasaran.

Pemanah pertama melesatkan panahnya dengan cepat sekali. Ia awali sebelumnya membaca ayat 16 surat Al-Hadid,
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"

Berikutnya pemanah kedua juga tidak kalah gesit. Ia juga membaca sebuah ayat dalam surat Adz-Dzariyat,
"Maka segeralah kembali kepada Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan dari Allah untuk kalian."

Terakhir adalah pemanah ketiga. Seperti kedua sahabat yang sebelumnya, kali ini ia membaca surat Az-Zumar ayat 54 sebelum melayangkan panahnya,
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserahdirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tak dapat ditolong lagi."

Sayangnya ketiga anak panah tersebut tidak melukai seorang perampok pun. Rupanya kegelapan yang meliputi malam itu mengaburkan jarak pandang sasaran. Mereka akhirnya kembali pulang.

Tidak disangka, sang kepala perampok sejak tadi memperhatikan kehadiran para pemanah. Malam itu juga ia mengumpulkan anak buahnya.

"Sesungguhnya tiga panah tadi tidak ada yang mengenai tubuhku, tetapi panah-panah Allah dalam tiga ayat yang mereka bacakan tepat mengenai hatiku. Maka saksikanlah saat ini juga aku bertaubat kepada Allah dan berhenti menjadi perampok!"

Kelak sang kepala perampok menjadi ulama yang termasyhur, dialah Al-Imam Fudhail bin Iyadh.




📚 Sumber ::
Buku Misteri Hidayah

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT


Diceritakan suatu waktu Imam Abu Hanifah didatangi seseorang yang mengadukan masalahnya, sambil berkata
"Wahai Imam sesungguhnya aku telah kehilangan uang, apa yang harus aku lakukan agar uangku kembali?

"Sholatlah engkau sebanyak 100 roka'at, dengan izin Alloh uang mu yang hilang akan kembali..."

Setelah mendapatkan anjuran Imam Abu Hanifah Orang tersebut berpamitan dan bergegas menuju tempat sholat.

Sholat ia laksanakan dua roka'at, empat roka'at  dan baru dipertengahan roka'at kelima ia teringat bahwa ia lupa telah menyimpan uang di rumahnya sendiri.

Selang beberapa waktu ia kembali menemui Imam Abu Hanifah seraya berkata
"Wahai imam aku telah menemukan uangku kembali..."

"Dimana engkau menemukannya?"

"Sesungguhnya aku telah lupa bahwa aku sendiri yang menyimpanya..."

"Berapa banyak roka'at sholat telah engkau kerjakan tadi?"

"Baru empat roka'at wahai Imam".

Kemudian Imam Abu Hanifah berkata
"Sesungguhnya itu adalah tipu daya setan, setan tidak akan pernah ridho engkau mendapatkan keuntungan akhirat dari pahala sholat yang engkau kerjakan. Sehingga setan berupa membuat engkau mengingat uangmu itu ketika dalam Sholat".

Orang tersebut terdiam



_

 Sesungguhnya Alloh menerima Sholat hanya berdasarkan kekhusyu'an didalamnya.

Rosululloh bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba yang mengerjakan sholat. Tetapi tidak mendapatkan nilai pahala sholat tersebut kecuali hanya seperenam atau sepersepuluhnya saja. Nilai atau pahala Sholat Seseorang itu tergantung pada banyak atau sedikitnya amalan yang dikerjakan dengam khusyu'"

Imam Hasan Albashri berkata :
"Setiap sholat yang tidak dikerjakan dengan kekhusyu'an hati, maka sholat itu justru mempercepat turunnya siksaan"




✍🏼 Oleh ::
Abuya Nur Hasanuddin Abdul Latief

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN


Dahulu ada seorang ahli Kitab yang menyamar sebagai seorang Muslim dan berusaha mencari-cari kesalahan umat Islam.  Ia suka menghadiri majelis para ulama dan mengajukan berbagai pertanyaan yang berat.  Pada suatu hari ia menghadiri majelis seorang ulama yang saleh dan memiliki cahaya.  Ia bertanya kepadanya, “Wahai Tuanku, apakah makna sabda Nabi saw berikut:

إِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allâh.”  (HR Tirmidzî)

Orang saleh itu menunduk sejenak lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Makna sabda Rasûlullâh saw tadi adalah potonglah Zunnâr (Zunnâr: selendang yang harus dikenakan oleh kafir dzimmî yang hidup di negara Islam, untuk membedakan mereka dengan umat Islam.) yang terikat di dadamu dan keluarlah engkau dari masjid.”

Ia menjelaskan hakikat hadis itu dan sekaligus membongkar rahasia si penanya yang kafir itu. 

Si ahli kitab lalu menghampiri sang Syeikh, bersimpuh di hadapannya lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allâh dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya.” 

Ia kemudian menjadi seorang Muslim yang baik.


__

Allâh akan memberi seorang Mukmin cahaya sesuai tingkat keimanannya.  Dengan cahaya itu dia mampu melihat hakikat segala sesuatu dan tidak tertipu oleh bentuk lahiriahnya.  Menurut para Muhaqqiq iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. 

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

Dan barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allâh, maka sedikit pun dia tidak memiliki cahaya.  (An-Nûr, 24:40)




📚 Sumber ::
 kitabnya Tâjul A’rôs, Habib Ali bin Husein Al-‘Athâs Bungur

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI


Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama istri dan keluarganya yang lain.

Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masjid dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau senantiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT.

Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau.

Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh ke negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah. “Assalaamuálaikum.” kata Soleh.“Waálaikumussalaam warahmatullah” jawab Muhammad bin Wasi’Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanya kabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir” “Ke rumah Abu Jahir?”“Ya, betul”“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.”

Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa waktu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanya kabar.“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Aku juga dalam perjalanan ke sana.”“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan karena bilangan mereka semakin ramai.

 Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama.

Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rekan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersalaman dan saling bertanya kabar.“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”“Segala puji-pujian bagi Allah SWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-Bannani

Berjalanlah ke lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur kepada Allah SWT justru mengaruniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah Wali-Nya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat. Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan salat.“Marilah kita salat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain. Lalu mereka mengerjakan salat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawaduk. Setelah menunaikan salat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekaliannya untuk di dunia dan di akhirat.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk sholat. Tidak berapa lama kemudian, waktu Zuhur pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa berucap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamat dan sholat. Kelima tetamunya yang mulia itu sholat berjemaah berimamkan Abu Jahir.

Selepas salat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu.

Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’. “Assalaamuálaikum” kata Muhammad “Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan “Anda ini siapa?”“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ ““O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus salatnya itu kan?”Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak salatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.

Tiba pula giliran Malik bin Dinar.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”Malik juga tidak berkata apa-apa.

Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu Jahir Seperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri.

Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya. “Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.” Soleh juga tidak mengeluarkan sepatah pun.

Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al Quran karena aku ingin sangat mendengarnya.”Soleh memenuhi permintaannya lalu dia membuka Al Quran dan membaca Surah Al Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang beterbangan ”Sebaik saya mendengar bacaan ‘debu yang beterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pingsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT.
Apabila beliau sadar dari pingsannya, dia berkata “Silakan ulangi pembacaan ayat tadi” Soleh mengulangi bacaannya dan apabila sampai kepada “Debu yang beterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu.

Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, istri Abu Jahir muncul.“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.

Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat” Soleh dan rekan-rekan wali Allah nya merasa heran terhadap perempuan itu, karena dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.“Dari mana puan tahu bahwa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka keheranan.“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat” Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.

Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengafankan, mensholati hingga menguburkan.




✍🏼 Oleh ::
Habib Shulfi Bin Abunawar Alaydrus

Wednesday, October 24, 2018

Big Data using Spark Programing

Dear semua, saat ini saya mau berbagi ilmu mengenai big data

History Spark

Spark adalah open source yang telah di buat dan di maintenance oleh suatu komunitas developer
Spark di mulai pada tahun 2009 sebagai reset project UC Berkeley RAD Lab yang kemudian menjadi AMPLab

Reset di lab telah berjalan pada Haddop Map reduce yang efisien untuk perhitungan iretative dan ineterative .

Sejak awal Spark dirancang untuk menjadi cepat pertanyaan interaktif dan algoritma iteratif, membawa ide seperti dukungan untuk penyimpanan di memori dan efisien.

Spark merupakan suatu platform cluster komputer yang di disain untuk proses cepat. Di sisi lain spark merupakan model yang populer untuk MapReduce yang support berbagai macam komputasi.

Spark menawarkan kecepatan dan kemampuan kumputasi di memory, tapi sysytem juga lebih effisien dari pada MapReduce untuk perhitungan komplek.

Kenapa Spark

Spark di disain untuk meng cover jangkauan yang luas.

Why Spark ? vs hadoop :





tes

tes

soal tes cpns

Motivated

Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. The way to get started is to quit talking and begin doing. ~ Walt Disney, Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawaw, Motivasi itu seperti mandi; kalau Anda berhenti melakukannya maka Anda akan "melempem" lagi, sama seperti Anda akan bau lagi bila berhenti mandi. ~ Z ig Ziglar ~ , Successful people live well, laugh often, and love much. They've filled a niche and accomplished tasks so as to leave the world better than they found it, while looking for the best in others, and giving the best they have. , It is literally true that you can succeed best and quickest by helping others to succeed. , There is always the danger that we may just do the work for the sake of the work. This is where the respect and the love and the devotion come in - that we do it to God, and that's why we try to do it as beautifully as possible. , Life is a promise; fulfill it, If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well. , Success is a state of mind. If you want success, start thinking of yourself as a success. , Be what it is that you are seeking. , Every new day is an opportunity to balance the sheet; a new opportunity to put your act right! Thank God for every new day, rather than just for Friday., There is no such thing in anyone's life as an unimportant day. ,What would life be if we had no courage to attempt anything? , It's what you learn after you think you know it all that makes a difference. , The difference between great people and everyone else is that great people create their lives actively, while everyone else is created by their lives, passively waiting to see where life takes them next. The difference between the two is the difference between living fully and just existing. , We are all faced with a series of great opportunities brilliantly disguised as impossible situations. , You cannot control what happens to you, but you can control your attitude toward what happens to you, and in that, you will be mastering change rather than allowing it to master you. , Those who wait to do a great deal of good at once will never do anything. Life is made up of little things. True greatness consists in being great in the little things. , Great lives are the culmination of great thoughts followed by great actions. , There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.,