Tuesday, November 13, 2018

MENCARI ILMU KARENA INGIN MEMINANG PUTRI SEORANG ALIM ULAMA

MENCARI ILMU KARENA INGIN MEMINANG PUTRI SEORANG ALIM ULAMA 



Disebutkan bahwa sesungguhnya( ALHABIB MUHAMMAD BIN HUSEIN ALHABSYI) dahulu beliau tdk memiliki ilmu sedikitpun lantas sebab beliau mau mencari ilmu adalah pada suatu kesempatan beliau meminang /mengkhitbah anak seorang alim ulama pada masa itu yg bernama ALHABIB MUHAMMAD BIN QUTBAN .

Tdk lama dari itu maka alhabib muhammad bin husen alhabsyi meminangnya kpd habib muhammad qutban akan tetapi syang nya alhabib muhammad qutban tidak meresponnya bahkan spontanitas beliau berkata ;
" ketahuilah sesungguhnya aku tidak akan menikahi putriku kpd seseorang lelaki yg buta akan ilmu" !!!

Tujuan dr pd habib muhammad qutban itu tdk lain dn tdk bukan hanya ingin memberikan semangat kpd nya agar bisa menimba ilmu dan mencari nya

Dengan sebab perkataan itulah alhabib muhammad bin husen alhabsyi pergi mencari ilmu dngn semngat yg bgtu luar biasa krna terpukul sekali atas ucapan alhabib muhammad bin qutban itu.

Beliau belajar tafsir alquran ,hadis ,fiqih dan ilmu sastra smpai brpa taun yg silam beliau mnjadi orang alim bahkan smpe martabat mufti(ahli fatwa)di kota hijaz sana
Stelah kepulngan beliau dr menuntut ilmu alhabib muhammad qutban yg tdi nya ayah dr si putri trsebut mengambil pula ilmu alat sprti nahwu, sorof dan balaqoh kpd alhabib muhammad bin husen alhabsyi lalu menikahi putri nya .



_

Ada sya'ir yg mengatakan :

حياة الفتي بالعلم والتقي# اذالم يكونا لاعتبار لذاته

Kehidupan yg hakikat bagi seorang pemuda adalah dngn menyibukan drinya trhadap ilmu dan dihiasi kesehariannya dngan ketaqwaan kpd alloh swt ,seandainya tdk ada 2 prkara itu trhdp pemuda maka tdk ada guna nya pemuda hidup didunia




📚 Sumber ::
Diambil dr kitab
( تحفة الاشراف) hal 101 juz 2 

RAHMAT ALLOH YANG DIHARAPKAN

RAHMAT ALLOH YANG DIHARAPKAN



Diriwayatkan bahwa di akhirat nanti ada 2 ruh yang di siksa di neraka. Allah kemudian memerintahkan agar keduanya di keluarkan dari neraka, setelah keluar, Allah bertanya kepada mereka berdua :

"Apakah yang menyebabkan kalian masuk Neraka?".

  "Nafsu kami". jawab mereka berdua.

 Allah berkata : "Bukankah telah Kularang kalian untuk bermaksiat kepadaKu? Bukankah Aku telah mengutus para Rosul, dengan bukti-bukti yang nyata? Dan bukankah telah Kuperingatkan kalian lewat lisan para Ulama'? Bahwa siapa saja yang taat akan memperoleh Surga, itana, wildan, dan bidadari. Dan orang-orang yang bermaksiat akan tinggal di neraka. Bersama Qorun, Fir'aun dan Hamman?".

 "Maha Benar Engkau Ya Allah, akan tetapi kami tidak taat, dan selalu bermaksiat kepadaMu". Jawab mereka berdua.

 Allah pun memerintah kan : "Kembalilah kalian ke neraka, dan rasakan siksaku yang sangat pedih".   

 Ruh yang satu bergegas dan segera kembali ke neraka, Namun Ruh yang satu lagi, berjalan dengan enggan sambil sesekali menoleh kebelakang.

  Allah pun memanggil kembali kedua ruh tersebut. "Mengapa engkau berjalan dengan cepat menuju Neraka?" Tanya Allah kpd Ruh yg pertama.

  "Ya Allah, dahulu ketika aku hidup di dunia, aku selalu membengkang perintah-perintahMu, maka sudah seharusnya sekarang aku taat kepadaMu".

  "Dan kau, mengapa engkau tidak segera kembali tapi malah lambat berjalan menuju Neraka?". tanya Alloh kepada Ruh yg kedua.

 "Ya Allah, aku sangat berharap akan ampunanMu, karena menurutku mustahil, jika Engkau mengembalikan kami ke Neraka setelah membebaskan kami dari nya (neraka)". jawab ruh yang kedua.   

Allah pun berkata : "Masuklah kalian berdua kedalam Surga ! , yang satu karena mentaati perintahKu, dan yang satu karena Percaya pada Rahmat dan kemurahanKu".                                 


✍ Oleh ::
Abuya Hasanuddin Abdul Lathif

PENCIPTAAN SURGA DAN NERAKA

PENCIPTAAN SURGA DAN NERAKA



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَبْقَى أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا


Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah S.A.W bersabda,

 "Setelah Allah SWT menciptakan syurga, Dia berkata kepada Jibril AS,
"Pergi dan lihatlah!"

 Kemudian Jibril pergi dan melihatnya.

 Dan berkata, 'Demi keagungan-Mu, sesungguhnya tidak ada satupun yang pernah mendengarnya kecuali pasti ingin memasukinya."
 Lalu jalan menuju syurga dihiasi dengan berbagai rintangan. Setelah itu,

Allah SWT berkata lagi kepada Jibril AS,
"Sekarang lihatlah!"

 Kemudian Jibril melihatnya dan berkata, 'Wahai Tuhanku, aku khawatir tidak akan ada yang bakal dapat memasukinya'. "

 Kemudian Rasulullah  meneruskan sabdanya, "Setelah Allah menciptakan neraka, Dia berkata kepada Jibril AS, 'Pergi dan lihatlah!' Maka Jibril pergi dan melihatnya.

 Ketika datang, Jibril berkata, 'Demi keagungan-Mu, tidak ada satupun yang pernah mendengarnya kecuali ia tidak akan mau memasukinya.' Lalu jalan menuju neraka dihiasi dengan hal-hal yang menyenangkan (nafsu syahwat).

 Setelah itu, Allah SWT berkata lagi, 'Sekarang pergi dan lihatlah.' Jibril AS pun pergi dan melihatnya. Setelah datang, ia berkata, 'Demi kaagungan-Mu. Aku khawatir semuanya akan masuk ke dalamnya'."



📚 Sumber ::
Sunan At-Tirmidzi

SHOLAWAT IMAM SYAFI’I

SHOLAWAT IMAM SYAFI’I


Disebutkan Bahwa Al Imam Al Ashbahaniy rahimahullah menceritakan :

 Aku bermimpi Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam kemudian aku bertanya pada beliau,

“Wahai Rasulullah, Anak pamanmu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (Imam Syafi’i), apakah kau khususkan sesuatu untuknya?”

“Ya, aku memohon pada Allah agar tidak menghisabnya.” jawab beliau.

“Dengan apa dia bisa mendapatkan seperti itu, wahai Rasulullah?” tanyaku.

“Sesungguhnya dia pernah bersholawat atasku dengan kalimat yang belum pernah seorangpun mengucapkannya.”

“Apakah itu?” tanyaku kembali.

“Dia berkata,

اللهم صل على محمد كلما ذكرك الذاكرون، و صل على محمد و آل محمد كلما غفل عن ذكره الغافلون

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, kullamaa dzakaroka dz-dzaakiruun, wa sholli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad kullamaa ghofala ‘an dzikrihil ghoofiluun

‘Ya Allah limpahkan shalawat atas Nabi Muhammad, selama orang-orang yang  mengingatmu. Dan limpahkan solawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya, selama orang-orang yang lalai melalaikanmu.”


_

Disebut ‘anak pamanmu’ karena Imam Syafi’i berasal dari keluarga Bani Hasyim sebagaimana Nabi.





📚 Sumber ::
Disebutkan dalam kitab Al Mughniy l-Muhtaaj

Pahala Yang Berbanding Seperti Berdzikir Pada Waktu Subuh Sampai Waktu Dhuha

Pahala Yang Berbanding Seperti Berdzikir Pada Waktu Subuh Sampai Waktu Dhuha



عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا ثُمَّ
رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِيَ جَالِسَةٌ فَقَالَ مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا قَالَتْ نَعَمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dari Ibnu 'Abbas dari Juwairiyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari rumah Juwairiyah pada pagi hari usai shalat Subuh dan dia tetap di tempat shalatnya.

Tak lama kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali setelah terbit fajar (pada waktu dhuha), sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempat shalat dan  Setelah itu,

 Rasulullah menyapanya: "Ya Juwairiyah, kamu masih belum beranjak dari tempat shalatmu?"

 Juwairiyah menjawab; 'Ya. Saya masih di sini, di tempat semula ya Rasulullah.'

 Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'Setelah keluar tadi, aku telah mengucapkan empat rangkaian kata-kata (sebanyak tiga kali) yang kalimat tersebut jika dibandingkan dengan apa yang kamu baca seharian tentu akan sebanding, yaitu :

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

 SUBHAANALLOOHI WABIHAMDIHI 'ADADA KhOLQIHI WARIDhOO NAFSIHI WAZINATA 'ARSyIHI WA MIDAADA KALIMAATIHI

Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridlaan-Nya, menurut arasy-Nya dan sebanyak tinta kalimat-Nya



 ✍🏼 Oleh ::
Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus

GARA-GARA TUSUK GIGI, MENDAPAT HUKUMAN 70 TAHUN

GARA-GARA TUSUK GIGI, MENDAPAT HUKUMAN 70 TAHUN



Diriwayatkan bahwa, diantara mayat yang dihidupkan oleh Nabi Isa AS (Mukjizat Nabi Isa) adalah seorang yang telah meninggal selama 70 tahun.

Ketika kuburan terbuka dan ruh kembali lagi ke jasadnya, mayat orang itu terbangun dan bertanya, "Apakah kiamat telah terjadi?"

Orang-orang yang hadir ketika itu menjawab, "Belum... Tapi utusan Allah, Nabi Isa AS telah meminta kepada-Nya untuk menghidupkanmu"

Orang (mayat) tersebut bertanya, "Wahai Nabi Isa, mengapa engkau meminta untuk menghidupkan aku?"

Nabi Isa AS lalu bertanya, "Sejak kapan engkau meninggal?"

Orang itu menjawab, "Kurang lebih 70 tahun yang lalu"

Nabi Isa AS bertanya lagi, "Ceritakanlah, apa kebaikanmu?"

Orang itu menjawab, "rata-rata amalku baik dan Allah SWT telah mengampuniku... kecuali satu hal"

Nabi Isa AS bertanya, "Apa itu?"

Orang itu menjawab, "Pekerjaanku adalah tukang angkut barang... Suatu ketika aku mengangkut satu ikat kayu bakar milik seseorang dan ketika aku telah sampai kerumahnya untuk mengantarkan kayu bakarnya... Makanan kecil menyelip digigiku... Tanpa seizin darinya, aku mengambil potongan kecil dari kayu bakarnya untuk tusuk gigi...

Dan Allah SWT menghisabku gara-gara tusuk gigi itu dan Dia memerintah agar aku mengganti haq nya... Selama 70 tahun aku dihukum, gara-gara tusuk gigi itu...

Saat ini aku sedang menunggu si pemilik kayu bakar tersebut..
Bila ia telah meninggal dan menghalalkan tusuk gigi tersebut untukku, maka Alloh akan mengampuniku,
Jika tidak maka Alloh tidak akan mengampuniku selama pemiliknya tidak menghalalkannya




📚Sumber ::
Is'af Tholibi Ridhal Al-Kholaq bi Bayaani Makaarim Al-Akhlaaq  - Sayyidinal Imam Al Allamah, Al Habib Umar bin Hafizh

PURA-PURA GILA DIZAMAN DAHULU

PURA-PURA GILA DIZAMAN DAHULU



Di riwayatkan dari Abi Ma'syar
 Bahwa ada seorang laki-laki bersumpah tidak akan menikah sampai bertanya pada 100 orang karena begitu khawatir akan salah memilih, ketika hendak menggenapkan yang ke 100 ia pergi dan akan bertanya pada siapapun yang ia temui, di tengah perjalanan ia melihat seseorang yang kelihatannya tidak waras, mengalungkan tulang di lehernya, menghitamkan wajahnya dan membuat tongkat kayu sebagai kuda-kudaannya.

Sang pemuda coba memberi salam pada orang aneh ini, ia pun menjawab salam.

Pemuda: "Boleh aku bertanya sesuatu ?"

 "Silahkan, asalkan pertanyaan yang bermanfaat" jawab orang aneh tersebut.

"Aku khawatir salah memilih wanita, lalu aku bertekad tidak akan menikah sampai berhasil bertanya pada 100 orang, dan engkau adalah yang ke-100, apa pendapatmu ?"

"Ketahui lah bahwa wanita ada 3: menguntungkanmu, merepotkanmu dan tidak menguntungkan juga tidak merugikan,

Tipe yg pertama adalah yang masih bujang dan pintar, ketika mendapat kebaikan ia bersyukur, ketika di sakiti suaminya dia hanya berkata "semua lelaki sama".

Tipe kedua janda beranak, ia hanya akan mengambil hartamu lalu memberikannya kepada anak-anaknya

Tipe ketiga janda yang belum beranak, ketika mendapat kebaikan ia bersyukur, ketika tersakiti ia mengenang suami pertamanya."

Sang Pemuda takjub bercampur heran, ia kembali bertanya,
 "apa yg membuat anda bertingkah aneh aneh seperti ini ?"

"Tadi sudah ku bilang, kalau mau tanya yang ada manfaatnya saja, kalau soal ini tidak ada manfaatnya !"

Sang pemuda bersumpah agar si pria aneh memberi tau tentang hal ihwal dirinya, akhirnya ia mau memberi tau.

"Aku begini untuk menghindari permintaan orang agar aku menjadi qadhi !"

Pria aneh itu pun berlalu.




📚 Sumber ::
Fawaidul mukhtaroh 

PANAH TERINDAH

PANAH TERINDAH


Sekelompok pemanah menunggang kuda mereka menuju sebuah tempat yang terkenal sebagai sarang perampok.
Ketika sudah mendekati tujuan yang dimaksud, hari sudah gelap.

Mereka tidak mungkin lagi tiba di tujuan dengan suasana gelap seperti itu. Maka diputuskanlah untuk melepaskan tiga panah dari kejauhan ke tengah-tengah sarang perampok tersebut. Siapa tahu panah itu mengenai sasaran.

Pemanah pertama melesatkan panahnya dengan cepat sekali. Ia awali sebelumnya membaca ayat 16 surat Al-Hadid,
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah?"

Berikutnya pemanah kedua juga tidak kalah gesit. Ia juga membaca sebuah ayat dalam surat Adz-Dzariyat,
"Maka segeralah kembali kepada Allah, sesungguhnya aku pemberi peringatan dari Allah untuk kalian."

Terakhir adalah pemanah ketiga. Seperti kedua sahabat yang sebelumnya, kali ini ia membaca surat Az-Zumar ayat 54 sebelum melayangkan panahnya,
"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserahdirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tak dapat ditolong lagi."

Sayangnya ketiga anak panah tersebut tidak melukai seorang perampok pun. Rupanya kegelapan yang meliputi malam itu mengaburkan jarak pandang sasaran. Mereka akhirnya kembali pulang.

Tidak disangka, sang kepala perampok sejak tadi memperhatikan kehadiran para pemanah. Malam itu juga ia mengumpulkan anak buahnya.

"Sesungguhnya tiga panah tadi tidak ada yang mengenai tubuhku, tetapi panah-panah Allah dalam tiga ayat yang mereka bacakan tepat mengenai hatiku. Maka saksikanlah saat ini juga aku bertaubat kepada Allah dan berhenti menjadi perampok!"

Kelak sang kepala perampok menjadi ulama yang termasyhur, dialah Al-Imam Fudhail bin Iyadh.




📚 Sumber ::
Buku Misteri Hidayah

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT

GODAAN SYETAN DALAM SHOLAT


Diceritakan suatu waktu Imam Abu Hanifah didatangi seseorang yang mengadukan masalahnya, sambil berkata
"Wahai Imam sesungguhnya aku telah kehilangan uang, apa yang harus aku lakukan agar uangku kembali?

"Sholatlah engkau sebanyak 100 roka'at, dengan izin Alloh uang mu yang hilang akan kembali..."

Setelah mendapatkan anjuran Imam Abu Hanifah Orang tersebut berpamitan dan bergegas menuju tempat sholat.

Sholat ia laksanakan dua roka'at, empat roka'at  dan baru dipertengahan roka'at kelima ia teringat bahwa ia lupa telah menyimpan uang di rumahnya sendiri.

Selang beberapa waktu ia kembali menemui Imam Abu Hanifah seraya berkata
"Wahai imam aku telah menemukan uangku kembali..."

"Dimana engkau menemukannya?"

"Sesungguhnya aku telah lupa bahwa aku sendiri yang menyimpanya..."

"Berapa banyak roka'at sholat telah engkau kerjakan tadi?"

"Baru empat roka'at wahai Imam".

Kemudian Imam Abu Hanifah berkata
"Sesungguhnya itu adalah tipu daya setan, setan tidak akan pernah ridho engkau mendapatkan keuntungan akhirat dari pahala sholat yang engkau kerjakan. Sehingga setan berupa membuat engkau mengingat uangmu itu ketika dalam Sholat".

Orang tersebut terdiam



_

 Sesungguhnya Alloh menerima Sholat hanya berdasarkan kekhusyu'an didalamnya.

Rosululloh bersabda:
"Sesungguhnya seorang hamba yang mengerjakan sholat. Tetapi tidak mendapatkan nilai pahala sholat tersebut kecuali hanya seperenam atau sepersepuluhnya saja. Nilai atau pahala Sholat Seseorang itu tergantung pada banyak atau sedikitnya amalan yang dikerjakan dengam khusyu'"

Imam Hasan Albashri berkata :
"Setiap sholat yang tidak dikerjakan dengan kekhusyu'an hati, maka sholat itu justru mempercepat turunnya siksaan"




✍🏼 Oleh ::
Abuya Nur Hasanuddin Abdul Latief

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN

KEKUATAN FIRASAT ORANG MU'MIN


Dahulu ada seorang ahli Kitab yang menyamar sebagai seorang Muslim dan berusaha mencari-cari kesalahan umat Islam.  Ia suka menghadiri majelis para ulama dan mengajukan berbagai pertanyaan yang berat.  Pada suatu hari ia menghadiri majelis seorang ulama yang saleh dan memiliki cahaya.  Ia bertanya kepadanya, “Wahai Tuanku, apakah makna sabda Nabi saw berikut:

إِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ

“Waspadalah terhadap firasat seorang Mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan cahaya Allâh.”  (HR Tirmidzî)

Orang saleh itu menunduk sejenak lalu mengangkat kepalanya dan berkata, “Makna sabda Rasûlullâh saw tadi adalah potonglah Zunnâr (Zunnâr: selendang yang harus dikenakan oleh kafir dzimmî yang hidup di negara Islam, untuk membedakan mereka dengan umat Islam.) yang terikat di dadamu dan keluarlah engkau dari masjid.”

Ia menjelaskan hakikat hadis itu dan sekaligus membongkar rahasia si penanya yang kafir itu. 

Si ahli kitab lalu menghampiri sang Syeikh, bersimpuh di hadapannya lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allâh dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya.” 

Ia kemudian menjadi seorang Muslim yang baik.


__

Allâh akan memberi seorang Mukmin cahaya sesuai tingkat keimanannya.  Dengan cahaya itu dia mampu melihat hakikat segala sesuatu dan tidak tertipu oleh bentuk lahiriahnya.  Menurut para Muhaqqiq iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan maksiat. 

وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللهُ لَهُ نُوْرًا فَمَا لَهُ مِنْ نُوْرٍ

Dan barang siapa tidak diberi cahaya oleh Allâh, maka sedikit pun dia tidak memiliki cahaya.  (An-Nûr, 24:40)




📚 Sumber ::
 kitabnya Tâjul A’rôs, Habib Ali bin Husein Al-‘Athâs Bungur

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI

WALI YANG MENINGGAL DIKELILINGI PARA WALI


Ada seorang wali Allah bernama Abu Jahir telah keluar dari negerinya dan tinggal di sebuah tempat yang jauh dari kampung asal bersama istri dan keluarganya yang lain.

Di tempat baru ini, dia telah mendirikan sebuah masjid dan beribadah di situ dengan tekun dan tenang. Beliau senantiasa dikunjungi oleh orang yang ingin belajar dan mendalami jalan menuju Allah SWT.

Pada suatu hari seorang wali Allah yang lain bernama Soleh Al-Mari berazam untuk menziarahi Abu Jahir untuk mendapatkan barakah dari beliau.

Maka pada hari yang telah ditetapkan, berangkatlah Soleh ke negeri tempat tinggalnya Abu Jahir. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Muhammad bin Wasi’, kenalannya yang juga seorang Wali Allah. “Assalaamuálaikum.” kata Soleh.“Waálaikumussalaam warahmatullah” jawab Muhammad bin Wasi’Kedua wali Allah ini pun berpelukan sambil bertanya kabar masing-masing dan berbual mengenai masalah kesufian.“Engkau hendak pergi ke mana?” tanya Muhammad.“Aku hendak menziarahi rumah Abu Jahir” “Ke rumah Abu Jahir?”“Ya, betul”“Masya Allah, aku juga hendak pergi bersama.”

Kedua-duanya pun berangkat menuju ke tempat tinggal Abu Jahir dan setelah berjalan beberapa waktu, mereka bertemu dengan seorang lagi Wali Allah bernama Hubaibul Ajami. Mereka bersalaman dan bertanya kabar.“Hendak ke mana anda berdua ini?” tanya Hubaibul Ajami.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Aku juga dalam perjalanan ke sana.”“Kalau begitu eloklah kita pergi bersama”Mereka meneruskan perjalanan dalam keadaan yang sungguh menggembirakan karena bilangan mereka semakin ramai.

 Setelah sampai di suatu tempat, tiba-tiba mereka berjumpa dengan Malik bin Dinar, seorang wali Allah yang masyhur. Mereka bersalaman.“Hendak pergi ke manakah kamu ini?” tanya Malik bin Dinar.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Subhanallah, aku juga sedang menuju ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”Sekarang mereka menjadi berempat dengan tujuan yang sama.

Dengan kuasa Allah SWT, di tengah perjalanan, mereka berjumpa seorang lagi rekan Wali Allah yang bernama Thabit Al-Bannani. Mereka pun bersalaman dan saling bertanya kabar.“Kamu hendak ke mana?” tanya Thabit.“Kami hendak menziarahi rumah Abu Jahir”“Masya Allah, saya juga akan ke sana.”“Kalau begitu, kita pergi bersama.”“Segala puji-pujian bagi Allah SWT yang telah mengumpulkan kita dan pergi bersama-sama walaupun tanpa perjanjian” kata Thabit Al-Bannani

Berjalanlah ke lima Wali Allah berkenaan menuju rumah Abu Jahir. Sepanjang perjalanan, mereka tidak putus-putus memuji dan bersyukur kepada Allah SWT justru mengaruniakan peluang berjalan bersama menuju ke rumah Wali-Nya. Tidak satu pun ucapan yang keluar dari mulut mereka melainkan perkataan yang mendatangkan manfaat. Setelah berjalan beberapa lama, mereka singgah di suatu tempat untuk berehat dan salat.“Marilah kita salat dua rakaat di sini, agar tempat ini ikut menjadi saksi esok di hari Kiamat di hadapan Allah Azza Wajalla” kata Thabit Al-Bannani“Satu cadangan yang baik” sahut yang lain. Lalu mereka mengerjakan salat bersama-sama dengan penuh khusyuk dan tawaduk. Setelah menunaikan salat, mereka berdoa untuk kepentingan umat Islam sekaliannya untuk di dunia dan di akhirat.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan dan akhirnya tiba di rumah Abu Jahir.Terasa kedamaian pada mereka apabila terpandang rumah dan masjid yang didirikan oleh Abu Jahir. Namun mereka tidak terburu-buru mengetuk pintu atau minta izin untuk masuk demi menjaga peradaban Wali Allah. Mereka pun duduk di masjid menunggu Abu Jahir keluar untuk sholat. Tidak berapa lama kemudian, waktu Zuhur pun masuk. Maka keluarlah Abu Jahir tanpa berucap apa-apa sebaliknya terus masuk ke masjid, berazan, iqamat dan sholat. Kelima tetamunya yang mulia itu sholat berjemaah berimamkan Abu Jahir.

Selepas salat, barulah mereka menemui Abu Jahir satu persatu.

Mula-mula sekali Muhammad bin Wasi’. “Assalaamuálaikum” kata Muhammad “Waálaikumussalaam” jawab Abu Jahir disambung dengan pertanyaan “Anda ini siapa?”“Saya saudaramu Muhammad bin Wasi’ ““O...Kalau begitu andalah orang Basrah yang terkenal paling bagus salatnya itu kan?”Muhammad diam tanpa berkata apa-apa.

Kemudian, Thabit Al-Bannani maju ke hadapan.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Thabit Al-Bannani”“O...Kalau begitu kamu yang dikatakan sebagai orang Basrah yang paling banyak salatnya itu kan?” Tanya Abu Zahir.Thabit juga diam tanpa berkata apa-apa.

Tiba pula giliran Malik bin Dinar.“Siapakah anda ini?” tanya Abu Jahir“Saya saudaramu Malik bin Dinar” jawabnya.“Masya Allah, jadi kamulah yang termasyhur sebagai orang yang paling zuhud di kalangan penduduk Basrah, bukan?”Malik juga tidak berkata apa-apa.

Kemudian Hubaib Al-Ajami menemui Abu Jahir.“Anda ini siapa?” tanya Abu Jahir“Saya adalah saudaramu Hubaib Al-Ajami”“Masya Allah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai orang yang mustajab doanya” kata Abu Jahir Seperti yang lain, Hubaib mendiamkan diri.

Akhirnya tiba giliran Soleh Al-Mari maju ke hadapan untuk memperkenalkan dirinya.“Anda pula siapa?” tanya Abu Jahir.“Saya saudaramu Soleh Al-Mari” jawabnya. “Subhanallah, kalau begitu andalah yang terkenal di kalangan penduduk Basrah sebagai qari yang fasih dan bagus suaranya.” Soleh juga tidak mengeluarkan sepatah pun.

Abu Jahir bertafakur sebentar seperti mengenangkan sesuatu.“Aku sebenarnya sangat rindu dan ingin mendengar suaramu wahai saudaraku” kata Abu Jahir. “Oleh itu, aku suka engkau bacakan empat atau lima ayat Al Quran karena aku ingin sangat mendengarnya.”Soleh memenuhi permintaannya lalu dia membuka Al Quran dan membaca Surah Al Furqan : Ayat 22 yang bermaksud :“Pada hari mereka melihat malaikat di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata “Hijraan mahjuuraa” Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu debu yang beterbangan ”Sebaik saya mendengar bacaan ‘debu yang beterbangan’, Abu Jahir berteriak kuat sehingga pingsan disebabkan rasa ketakutan yang teramat sangat kepada Allah SWT.
Apabila beliau sadar dari pingsannya, dia berkata “Silakan ulangi pembacaan ayat tadi” Soleh mengulangi bacaannya dan apabila sampai kepada “Debu yang beterbangan”, sekali lagi Abu Jahir berteriak sehingga rebah di tempat sujud dan wafat ketika itu juga.Soleh dan teman-teman Wali Allah nya sangat terharu menyaksikan kewafatan Abu Jahir yang mengkagumkan itu.

Beliau wafat dalam keadaan amat ketakutan mendengar Kalam Ilahi. Tidak lama kemudian, istri Abu Jahir muncul.“Siapakah kalian ini?” tanya isteri Abu Jahir.“Kami datang dari Basrah. Yang ini Malik bin Dinar, Hubaib Al-Ajami, Muhammad bin Wasi’, Thabit Al-Bannani dan saya adalah Soleh Al-Mari” jawab Soleh mewakili para aulia sahabatnya itu.

Tiba-tiba perempuan itu berkata “Innaa lillaahiwainnaa ilaihi raajiúun...kalau begitu Abu Jahir telah wafat” Soleh dan rekan-rekan wali Allah nya merasa heran terhadap perempuan itu, karena dia telah memastikan kematian suaminya, padahal dia belum menyaksikannya dan mereka juga belum memberitahunya apa yang telah terjadi.“Dari mana puan tahu bahwa Abu Jahir telah wafat?” tanya mereka keheranan.“Saya telah banyak kali mendengar doanya di mana beliau sering mengucapkan “Ya Allah, kumpulkanlah para Aulia-Mu pada saat ajalku” dan perempuan itu menyambung “Jadi, tidaklah kamu berkumpul di sini sekarang ini melainkan Abu Jahir telah wafat” Rupa-rupanya doa Abu Jahir telah dimakbulkan Allah SWT.

Maka para Aulia itu pun menguruskan mayatnya dari memandikan, mengafankan, mensholati hingga menguburkan.




✍🏼 Oleh ::
Habib Shulfi Bin Abunawar Alaydrus