Thursday, January 16, 2014

Kisah Nyata Saya Dalam Perjalanan Menuju Jakarta

Kisah Nyata Saya Dalam Perjalanan Menuju Jakarta

Di suatu perjalanan dari Sukabumi menuju Jakarta, 3 bulan yang lalu, sebelum bulan Ramadhan.

Saat tertidur di perjalanan, terbangunlah saya (dibangunkan Allah SWT) dengan rasa ingin pipis. Tidak jauh di depan ada sebuah SPBU, diputuskanlah untuk buang air kecil di SPBU tersebut.

Setelah mobil diparkir dan turun dari mobil, terlihat berlari tergopoh-gopoh seorang satpam SPBU menghampirinya.

“Assalammualaikum pak ustad”, salam si satpam.

“Waalaikumsalam”, saya menjawab.

“Begini pak ustad saya ingin cerita alias ngobrol-ngobrol dengan pak ustad”, sambar si satpam. “Oh ya pak nanti ya setelah saya buang air kecil, tunggu dulu aja di sini sebentar”, kata saya sembari dia berjalan menuju toilet. Akan tetapi, si satpam bukannya menunggu malahan dia mengikuti saya, saya pun mengulangi perkataannya.

“Pak tunggu aja sebentar ga lama ko.”

Si satpam pun nyengir sembari berkata, “saya mau shalat Ashar dulu pak”. Ustad melihat jam tangannya yang menunjuk jam 16.55.

“Baru mau shalat Ashar? Ya sudah cepat waktu Ashar bentar lagi habis”. “Ya pak, waktu tugas saya baru selesai jadi baru sempat shalat”, jawab si satpam.

Di dalam toilet setelah selesai buang air kecil saya merenenung, “Tadi tertidur terus kebangun karena pingin pipis, pas ada SPBU, terus mampir, terus ketemu si satpam. Pasti Allah SWT sudah menjodohkan saya dengan si satpam itu tadi. Ya sudah akan saya dengar dia mau cerita apa.”

saya pun diajak ngobrol di kantin SPBU.

“Begini pak ustad saya udah bosen kerja di sini, saya ga betah”, kata si satpam.

“Lho ga betah? Udah berapa lama kerja di sini?”, tanya saya.

“Udah 7 tahun pak”, jawab si satpam.

“Nah itu betah namanya, kerja udah 7 tahun”, kata saya lagi.
“Bukan gitu pak, habis ga ada kerjaan lain pak.”

“Terus kenapa bisa ga betah?”

“Gajinya kecil pak ustad.”

“Emang berapa gaji?”

“Gaji perbulan saya 1,7 juta.”

“Alhamdulillah, segitu kurang pak? Bapak udah punya istri dan anak? Pasti ada yang salah dengan bapak”, sambar saya.

Si satpam pun nyengir kuda, “hehe, saya ambil motor pak dan saya punya istri dan seorang anak.”

“Ya benar tebakan saya, memang uang cicilannya berapa per bulan?”

“925.000 per bulan pak”. (Pantes aja gaji ga cukup, itu namanya besar pasak dari pada tiang)

“Saya ingin hidup saya berubah pak ustad ga gini-gini aja”, lanjut si satpam.

“Ada 2 syarat kalau Anda ingin berubah. Yang pertama benerin dulu tuh shalat bapak, bagaimana mau berubah kalau shalat aja telat. Shalatlah tepat pada waktunya, begitu suara adzan terdengar, maka berhentilah dari semua aktivitas, bergegas ambil wudhu dan kerjakaan shalat.”

Shalat Ashar kurang lebih jam 15.00, tapi Anda mengerjakan pukul 17.00, berarti bapak telat 2 jam. Sehari 5 waktu shalat, 2 x 5 = 10 jam, sebulan 10 x 30 = 300 jam (12,5 hari), setahun 12,5 x 12 = 150 hari (5 bulan), masa kerja 7 x 5 = 35 bulan (3 tahun). Itu baru dikali waktu kerja bapak 7 tahun di SPBU, kalau dikali umur bapak sesudah masa baligh sampai sekarang? Udah habis waktu bapak sia-siakan, percepatan waktu bapak jelas kalah dengan teman-teman bapak, saudara-saudara bapak yang menunaikan ibadah shalat tepat pada waktunya. Yang lain udah naik pesawat, bapak masih naik sepeda aja. Yang lain udah hidup enak bapak masih gini-gini aja”, papar ustad Yusuf Mansur.

Sambil manthuk-manthuk si satpam bertanya lagi, “Syarat yang ke 2 apa pak ustad?”

“Yang ke 2 berinfak dan bersedekahlah kamu, sisihkanlah dari penghasilan bapak.”

Si satpam pun nyamber, “Oke pak saya mau benerin shalat saya, tapi untuk syarat yang ke 2 saya ga sanggup pak ustad, gimana mau infak dan sedekah? Penghasilan saya aja pas-pasan bahkan kurang pak ustad.”

Sambil geleng-geleng saya berkata, “Semua makhluk yang ada di jagat raya ini sudah di atur rezekinya masing-masing oleh Allah SWT, hewan-hewan dan tumbuhan tak terkecuali. Jangankan orang yang bekerja, pengangguran aja sudah dibagi rezekinya, apalagi yang bekerja, saya mau nanya, mana ada sekarang pengangguran yang tidak makan sehari-harinya? Pasti makan, kalau ada yang tidak atau kurang makan, silakan datang ke rumah saya untuk makan. Namanya syarat berarti wajib, mau berubah nasibnya ga?

“Mau pak ustad, tapi berapa sedekahnya?”

“Sebulan gaji deh.”

“Sebulan gaji? Terus makan keluarga saya?”

“Gini aja bapak bilang ke atasan, bon dulu uang gaji bulan depan untuk infak dan sedekah”. Si satpam terbengong-bengong, pertentangan bathin sangatlah kuat antara ikhlas dan tidak, pecahlah itu perang baratayudha di dalam hatinya.

Dan akhirnya, sambil menghela nafas panjang si satpam berkata, “Baiklah pak ustad 2 syarat tadi akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya, terima kasih pak ustad saya udah mengganggu waktu ustad.

“Alhamdulillah, ga apa-apa, lakukanlah syarat tadi dengan semata-mata mengharap ridha Allah SWT.”

Berpisahlah si satpam dengan ustad Yusuf Mansur.

Malam harinya si satpam gendu-gendu rasa dengan istrinya, apa-apa yang sudah di obrolin dengan ustad Yusuf Mansur. Alhamdulillah sang istri pun mendukung niatan dari suaminya dengan penuh hati.
Kemudian, pagi harinya si satpam menghadap kepada komandannya,

“Ndan, saya mau ngebon uang gaji saya bulan depan, boleh ga ndan?”

“Boleh aja, tapi alasannya buat apa?” Tanya balik si komandan.
Si satpam pun terdiam, iya iya buat apa? Masa alasan ngebon untuk infak dan sedekah, kan ga lucu.

“Heh ditanya kok malah diam!” Komandan menyentak.

“Ya ndan kemarin saya ketemu ustad Yusuf Mansur, syarat untuk merubah nasib saya salah satunya bersedekah, jadi saya ngebon mau buat sedekah ndan”, jawabnya dengan lirih dan aga malu-malu.

Si komandannya ketawa…

“Hahaha masa kamu kasbon buat sedekah? Yang bener aja? Tapi oke lah, nanti saya tanya boz besar dulu, kan dia yang meng-ACC.”

Si komandan pun langsung bergegas menghadap boz untuk mengutarakan hajat si satpam anak buahnya.

“Pagi boz, gini salah satu satpam anak buah saya, mau ngebon uang gajinya bulan depan, di ACC ga boz?”

“Buat apaan?”

“Katanya sih mau di gunakan untuk sedekah boz.”

“Mau buat sedekah?” Sambil mantuk-mantuk dan cengar-cengir si boz menyambar lagi,” aneh banget, ya sudah, bilang sama dia boleh, akan saya kasih dia bon gaji bulan depan, suruh ke sini dia.”
Si satpam masuk ruangan boz nya.

“Katanya kamu mau kasbon gaji bulan depan dan uangnya mau buat sedekah?”

“Iya boz, saya mau merubah nasib.”

“Merubah gimana?”

Si satpam pun menjelaskan ke boz nya, kalau mau berubah nasib harus sedekah. Dan si boz pun percaya ga percaya.

Singkat cerita si satpam udah mendapatkan uangnya dan telah menghabiskannya untuk berinfak dan sedekah bagi saudara-saudara dan tetangganya yang kurang mampu.

Hari-hari pun berlalu, sampai tibalah di bulan yang baru. Alhamdulillah semua teman-temannya pada gajian, sendiri-sendiri ga gajian, karena bulan lalu udah di bon. Tapi hari demi hari berlalu, seorang teman satpamnya bertanya-tanya apakah si satpam itu tadi hidupnya serba kekurangan atau tidak, temannya pun melakukan survei, oh ternyata si satpam telah menjual motornya, pantes lempeng aja dia. Si boz pun terus bertanya-tanya sambil menunggu si satpam kenapa ga datang-datang lagi, lempeng amat tu bocah ya, merasa penasaran si boz pun memanggil si satpam untuk menghadapnya di kantin.

“Gimana mau ngebon lagi ga untuk bulan depan, kan uang bulan ini udah ga ada?” Tantang si boz.

“Alhamdulilah ga pak boz.”

Tiba-tiba temennya nyeletuk dari belakang, “dia abis jual motornya boz.”

“Oh abis jual motor, pantes ka ga ngebon lagi.”

“Ga boz, saya jual motor bukan buat saya atau keluarga saya makan boz, tetapi saya jual motor untuk menambahi sedekah saya!” Elak si satpam.
Tambah terbengong-bengong si boz dan penasaran,

“Gini boz saya ceritain, selepas saya bersedekah hari-hari terakhir di bulan lalu saya sempat terbesit di hati rasa was-was dan gundah. Mau makan apa saya dan keluarga saya bulan depan. Eh di awal bulan kemarin Alhamdulillah nama istri saya nyangkut di surat warisan keluarga di kampung, di situ tertera angka 17 juta untuk istri saya”.

Si boz pun nyamber lagi. “Lah kenapa kamu jual itu motor?”

“Saya malu sama ustad Yusuf Mansur, seandainya pada saat itu saya jual motor untuk sedekah pasti Allah SWT akan membalasnya dengan lebih besar lagi. Alhamdulillah sekarang saya dan istri punya warung sembako di rumah sebagai usaha sampingan, semoga dengan ini nasib saya sedikit-sedikit akan berubah menjadi baik dan lebih mulia di mata Allah SWT.”

“Aamiin.”

Semoga dari cerita nyata ini dapat memotivasi teman-teman, bapak-bapak dan ibu-ibu untuk mencontoh si satpam tadi. Ada 2 syarat jika anda sekalian ingin merubah nasib anda di muka bumi ini dan mulia di mata Allah SWT:

1. Shalat tepat waktu.
2. Berinfak dan bersedekahlah dalam keadaan lapang maupun sempit dengan ikhlas.

Kedua syarat tersebut dilakukan dengan semata-mata untuk mendapat ridha Allah SWT.
AMIN
Post a Comment

tes

tes

soal tes cpns

Motivated

Cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. The way to get started is to quit talking and begin doing. ~ Walt Disney, Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawaw, Motivasi itu seperti mandi; kalau Anda berhenti melakukannya maka Anda akan "melempem" lagi, sama seperti Anda akan bau lagi bila berhenti mandi. ~ Z ig Ziglar ~ , Successful people live well, laugh often, and love much. They've filled a niche and accomplished tasks so as to leave the world better than they found it, while looking for the best in others, and giving the best they have. , It is literally true that you can succeed best and quickest by helping others to succeed. , There is always the danger that we may just do the work for the sake of the work. This is where the respect and the love and the devotion come in - that we do it to God, and that's why we try to do it as beautifully as possible. , Life is a promise; fulfill it, If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well. , Success is a state of mind. If you want success, start thinking of yourself as a success. , Be what it is that you are seeking. , Every new day is an opportunity to balance the sheet; a new opportunity to put your act right! Thank God for every new day, rather than just for Friday., There is no such thing in anyone's life as an unimportant day. ,What would life be if we had no courage to attempt anything? , It's what you learn after you think you know it all that makes a difference. , The difference between great people and everyone else is that great people create their lives actively, while everyone else is created by their lives, passively waiting to see where life takes them next. The difference between the two is the difference between living fully and just existing. , We are all faced with a series of great opportunities brilliantly disguised as impossible situations. , You cannot control what happens to you, but you can control your attitude toward what happens to you, and in that, you will be mastering change rather than allowing it to master you. , Those who wait to do a great deal of good at once will never do anything. Life is made up of little things. True greatness consists in being great in the little things. , Great lives are the culmination of great thoughts followed by great actions. , There are two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.,